IHSG Ditutup Anjlok 52 Poin Akibat Investor Ambil Untung, Intip 3 Saham Ini Tetap Kinclong

3 hours ago 1

Rabu, 15 April 2026 - 17:11 WIB

Jakarta, VIVA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik terkoreksi setelah menguat drastis sejak awal pekan ini. IHSG melemah 0,68 persen atau 52,37 poin ke level 7.623,59 pada penutupan perdagangan Rabu, 15 April 2026. 

Tren penurunan terjadi pada sesi kedua di mana indeks turun dari kisaran 7.713 perlahan tergerus menyentuh titik terendah intraday. Volume transaksi harian tercatat sebesar Rp 514,38 juta, nilai tranaksi mencapai Rp 22,61 triliun sementara total perdagangan sebanyak 3,16 juta transaksi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 2,81 persen disusul koreksi tajam sektor infrastruktur sebesar 1,33 persen dan sektor konsumer siklikal tergerus 1,00 persen. Penurunan juga dicatatkan sektor keuangan sebesar 0,64 persen, sektor bahan baku kehilangan 0,44 persen, dan sektor energi jatuh 0,27 persen. 

Meski IHSG terbakar, beberapa sektor saham tetap kinclong. Sektor transportasi menguat 3,46 persen, sektor industri meningkat 1,54 persen, sektor teknologi melonjak 0,52 persen, sektor konsumer non-siklikal melambung 0,30 persen dan sektor properti naik 0,21 persen.

IHSG Ditutup Melemah

Photo :

  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

"Setelah sempat menguat hingga level 7,773, IHSG bergerak variatif dan akhirnya ditutup melemah. Sektor infrastruktur mencatatkan koreksi terbesar. 

"Pelemahan IHSG antara lain akibat profit taking setelah mengalami reli sekitar sepekan terakhir," ulas Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, Rabu, 15 April 2026. 

Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area overbought dan membentuk Death Cross. Namun histogram positif MACD masih mengalami kenaikan.  

Dari sisi global, lembaga pemeringkatan internasional, S&P Global Ratings, menyatakan peringkat utang negara Indonesia paling rentan terhadap konflik di Timur Tengah jika berlarut-larut. Kenaikan biaya energi akibat konflik tersebut diproyeksikan akan meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran belanja negara. 

Impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan. S&P juga menilai percepatan inflasi akan mendorong kenaikan suku bunga yang dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. 

Adapun beberapa saham tetap perkasa saat indeks terkoreksi. Berikut tiga emiten dengan lompatan harga tertinggi (top gainers) di jajaran saham unggulan (LQ45). 

PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saham INCO menguat 5,84 persen atau 375 poin menjadi 6.800.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)

Halaman Selanjutnya

Saham AADI meningkat 4,85 persen atau 500 poin ke level 10.800.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |