Jakarta, VIVA – Seorang ilmuwan asal China viral karena tengah meneliti kemungkinan yang terdengar tak biasa. Yaitu, bagaimana bila perempuan hanya mengalami menstruasi setiap tiga bulan sekali? Gagasan ini bukan sekadar eksperimen unik, melainkan bagian dari upaya besar untuk mengatasi krisis populasi yang kini menghantui banyak negara, terutama China.
Ahli biologi tersebut bernama Hongmei Wang. Ia adalah peneliti di laboratorium sel punca dan biologi reproduksi di Beijing yang fokus mempelajari tahap awal perkembangan manusia. Penelitiannya menjadi krusial di tengah situasi demografi yang semakin mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
China, yang dulu dikenal sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, kini justru menghadapi penurunan jumlah penduduk secara signifikan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di China. Banyak negara maju juga menghadapi masalah serupa, yakni angka kelahiran rendah dan populasi menua.
Kondisi ini berpotensi menekan sistem kesehatan dan ekonomi akibat berkurangnya tenaga kerja produktif serta meningkatnya beban perawatan lansia. Di China, dampaknya bahkan lebih besar.
Meski pemerintah telah melonggarkan kebijakan dengan mengizinkan dua anak sejak 2015 dan tiga anak sejak 2021, minat masyarakat untuk memiliki anak tetap rendah. Jika tren ini berlanjut, populasi China diperkirakan bisa menyusut hingga setengahnya pada akhir abad ini, menurut proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam menghadapi situasi ini, penelitian Wang mencoba membuka peluang baru dalam dunia reproduksi. Salah satu fokusnya adalah memperpanjang masa subur perempuan, termasuk dengan menunda menopause. Berdasarkan eksperimen pada tikus, hal ini secara teori memungkinkan, meski memiliki risiko.
“Jika kita menghambat ovulasi, kita dapat mempertahankan sel telur yang tersedia, tetapi pada saat yang sama, kita menghambat produksi estrogen, yang merupakan molekul yang sangat penting bagi kesehatan,” jelas Wang, sebagaimana dikutip dari El Pais, Senin, 4 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Secara biologis, perempuan memang memiliki keterbatasan dalam jumlah sel telur. Berbeda dengan pria yang dapat menghasilkan jutaan sperma dalam satu kali ejakulasi, perempuan hanya memiliki sekitar 400 sel telur yang aktif sepanjang hidup reproduksinya.
Sebab itu, memperpanjang masa subur, bahkan satu tahun saja, dinilai bisa membawa dampak sosial besar. Tim Wang juga mencatat kemajuan signifikan melalui teknologi sel punca.
Halaman Selanjutnya
Dalam salah satu penelitian, ilmuwan berhasil menyuntikkan sel punca manusia ke ovarium monyet yang mandul, hingga akhirnya menghasilkan kelahiran bayi monyet yang sehat. Selain itu, uji klinis kecil terhadap 63 perempuan dengan kegagalan ovarium dini menunjukkan bahwa empat di antaranya berhasil memiliki anak setelah menjalani transplantasi sel punca.

1 week ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)