Industri Otomotif RI Masuk Fase Transisi Multi Teknologi

1 week ago 12

Rabu, 6 Mei 2026 - 22:31 WIB

Jakarta, VIVA - Transformasi industri otomotif nasional menuju era kendaraan ramah lingkungan dipastikan tidak berlangsung secara instan. Pasar Indonesia justru mulai memasuki fase transisi dengan pendekatan multi teknologi, di mana berbagai jenis powertrain seperti mesin pembakaran internal (ICE), hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), hingga kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) akan berjalan berdampingan.

Senior Vice President MG Motor Indonesia, Jimmy Zhang, menilai perkembangan pasar otomotif Tanah Air saat ini menunjukkan arah yang semakin beragam. Tidak hanya kendaraan listrik yang tumbuh, tetapi juga model elektrifikasi lain mulai mendapat perhatian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kalau melihat pasar Indonesia, setelah banyak brand global masuk beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2023, pilihan produk jadi semakin luas. EV berkembang, tapi hybrid dan PHEV juga mulai diperkenalkan dan diminati,” ujar Jimmy di Bandung, Jawa Barat, Rabu 6 Mei 2026.

Menurut dia, pola tersebut memiliki kemiripan dengan pasar China, yang lebih dulu mengalami percepatan elektrifikasi. Meski penetrasi kendaraan listrik di negara tersebut sangat tinggi, model PHEV tetap mencatat kontribusi penjualan signifikan, bahkan terus berkembang dengan teknologi baterai yang lebih besar.

“Di China, EV memang sudah sangat tinggi, tapi PHEV juga sangat kuat. Bahkan sekarang banyak brand menghadirkan hybrid dengan kapasitas baterai lebih besar. Ini bisa menjadi gambaran bagaimana pasar Indonesia akan berkembang,” kata dia.

Jimmy menjelaskan, kondisi geografis dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting yang membuat Indonesia tidak bisa langsung beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik. Ketersediaan stasiun pengisian daya, harga kendaraan, hingga daya beli masyarakat masih menjadi tantangan yang harus diatasi secara bertahap.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam situasi tersebut, kehadiran teknologi hybrid dan PHEV dinilai menjadi solusi transisi yang relevan. Hybrid menawarkan efisiensi tanpa bergantung pada pengisian listrik, sementara PHEV memberikan fleksibilitas dengan kombinasi mesin konvensional dan motor listrik yang bisa diisi ulang.

MG sendiri, lanjut Jimmy, tetap menjadikan kendaraan listrik sebagai fokus utama dalam pengembangan produk. Namun, perusahaan juga membuka peluang untuk masuk ke segmen hybrid dan PHEV guna menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Halaman Selanjutnya

“Sebagai brand, kami harus kompetitif dan memberikan pilihan terbaik bagi konsumen. Karena itu, kami juga melihat kemungkinan untuk masuk ke HEV dan PHEV, tidak hanya EV,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |