Investor Global Masih Berminat Investasi di RI, Airlangga Beberkan Indikatornya

8 hours ago 1

Selasa, 14 April 2026 - 20:30 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan, para investor global masih mengakui ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Dua pengakuan internasional yang dirilis dalam rentang kurang dari sepekan, menegaskan pandangan pelaku pasar global dan lembaga multilateral terhadap ketangguhan ekonomi Indonesia,” kata Airlangga dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

Photo :

  • [Mohammad Yudha Prasetya]

Salah satu proyeksi disampaikan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027, atau naik dari realisasi 5,1 persen pada 2025. Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan ADB April 2026, bertajuk "The Middle East Conflict Challenges Resilience in Asia and the Pacific".

Pada periode yang hampir bersamaan, lembaga indeks global FTSE Russell pada 7 April 2026 mempertahankan status pasar modal Indonesia, sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watch list) untuk potensi penurunan status.

Airlangga menekankan, kedua sinyal tersebut muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, volatilitas harga energi, serta ketegangan perdagangan internasional yang menekan sejumlah negara di kawasan.

"Status Indonesia yang sejajar dengan China dan India dalam klasifikasi FTSE, semakin menegaskan posisi pasar modal nasional yang terus bergerak menuju standar tata kelola dan transparansi global," ujarnya.

Diketahui, ADB memproyeksikan pertumbuhan Indonesia berada di atas rata-rata subkawasan Asia Tenggara yang diperkirakan sebesar 4,7 persen pada 2026. Hal ini mencerminkan kekuatan struktural ekonomi domestik dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Lembaga tersebut menilai permintaan domestik yang tetap kuat, inflasi yang terjaga di kisaran 2,5 persen sesuai target pemerintah, serta kebijakan moneter yang terkalibrasi menjadi pilar utama yang menopang kinerja ekonomi Indonesia.

Dari sisi pendorong pertumbuhan, ADB mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi faktor utama, didukung peningkatan produktivitas sektor pertanian dan momentum musiman Ramadan serta Idul Fitri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, pembangunan infrastruktur publik yang berlanjut serta meningkatnya investasi sektor swasta, khususnya di sektor hilirisasi, turut memperkuat pertumbuhan.

Arus masuk penanaman modal asing yang tetap solid juga dinilai membantu pembiayaan eksternal sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar. Sementara itu, kebijakan fiskal yang terarah berperan dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendukung investasi. Di sisi lain, pengakuan FTSE Russell dinilai mencerminkan kemajuan reformasi struktural di pasar modal Indonesia.

Halaman Selanjutnya

Lembaga itu menyoroti implementasi delapan rencana aksi percepatan reformasi, antara lain peningkatan transparansi kepemilikan saham, perluasan klasifikasi investor, penetapan batas minimum free float sebesar 15 persen, serta penerapan mekanisme peringatan dini High Shareholding Concentration (HSC).

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |