KH Ubab Maimoen Minta Calon Ketum PBNU Jangan Saling Serang

2 days ago 5

Senin, 11 Mei 2026 - 13:57 WIB

Jakarta, VIVA – Jelang Muktamar ke-35 NU, pengasuh PP Al-Anwar 2, Sarang Rembang Jawa Tengah, KH Abdullah Ubab Maimoen meminta para kader NU yang dicalonkan atau mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU bisa membangun kepercayaan nahdliyyin melalui peserta muktamar dengan cara santun dan beretika pesantren.

Menurutnya, para kandidat Ketum PBNU harus menggunakan cara mendapat kepercayaan dari muktamirin dan bisa diterima dengan baik. Dan, pelaksanaan muktamar dan mekanisme pemilihan pimpinan NU dilakukan dengan proses yang baik dan benar-benar dipercaya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jangan sampai saling menjelek-jelekkan antar calon. Bahkan, jangan banding-bandingkan secara negatif seperti pemilihan pejabat hingga pertengkaran terbawa hingga setelah pemilihan,” kata Gus Ubab sapaan akrabnya, dikutip Senin, 11 Mei 2026.   

Gus Ubab berharap pemilihan pimpinan PBNU nanti sebagaimana terpilihnya Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid melalui muktamar. Saat ditanya siapa sosok yang tepat memimpin NU, beliau menyatakan tidak memiliki pilihan.

“Saya ingin prosesnya mulus, menjadi (Ketua Umum PBNU) dengan jalan mulus, purna (selesai tugas) pun juga berakhir mulus. Seperti Gus Dur, saat menjadi maupun berakhir dengan mulus,” kata Gus Ubab.

“Saya tidak ada pilihan. Saya senang saja Gus Salam nyalon. Jadi, siapapun yang jadi, tentu Allah yang mengatur dan menghendakinya,” sambungnya.

Ilustrasi Muktamar ke-35 NU

Dalam kesempatan yang sama,  KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menyatakan bersyukur bisa bersilaturahmi kepada para sesepuh NU dan pesantren di Jawa Tengah. 

Ia juga bisa bertemu dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah untuk mendapat masukan dan menyerap harapan mereka.

“Saya sowan ke KH Ali Qoishor Abdul Haq Dalhar sebelum ziarah makbaroh. Karena Mbah Dalhar adalah ulama besar dan kharismatik sejaman dengan Mbah Hasyim Asy’ari,” kata Gus Salam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami ingin tabarrukan, karena peran dan perjuangan Mbah Dalhar mewarisi para pendahulunya, Laskar Kiai semasa Pangeran Diponegoro, sekaligus menyerap nuansa spiritualitas Islam di kerajaan Mataram saat menghadapi kolonial Belanda,” tambahnya.

Menurut Gus Salam, para pendiri jam’iyyah NU adalah para ulama keturunan dari laskar kiai di barisan Pangeran Diponegoro dalam menghadapi kolonial Belanda. Baginya, jiwa perjuangan dan pengkhidmatan ulama terhadap rakyat dan tanah air, tercermin dan menjiwai pendirian NU.

Halaman Selanjutnya

Ditanya tentang hasil pertemuan dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah, Gus Salam menggambarkan hampir sebagian besar PCNU prihatin terhadap kondisi NU, terutama PBNU saat ini. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |