Kisah Sucipto, Tukang Parkir di Banyumas Wujudkan Impian Naik Haji dari Menabung

1 day ago 2

Selasa, 12 Mei 2026 - 12:00 WIB

Purwokerto, VIVA – Derit roda kendaraan yang keluar masuk area parkir Pasar Pon, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sudah puluhan tahun menjadi bagian dari keseharian Sucipto.

Di bawah terik matahari, guyuran hujan, hingga hiruk-pikuk pasar yang tak pernah benar-benar sepi, pria berusia 64 tahun itu setia mengatur kendaraan, sambil menggenggam peluit kecil di tangannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari pekerjaan yang bagi sebagian orang dipandang sederhana itulah, Sucipto perlahan merangkai mimpi besar: menunaikan rukun Islam kelima, yakni ibadah haji ke Tanah Suci.

Tak banyak yang menyangka, penghasilan rata-rata sekitar Rp50 ribu per hari sebagai tukang parkir, ditambah pekerjaan sambilan sebagai petugas jaga malam di kawasan perumahan pemda dengan upah Rp900 ribu per bulan, akhirnya mampu mengantarkan warga Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, itu menuju Baitullah.

Ilustrasi jemaah calon haji

Photo :

  • ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Pada 14 Mei mendatang, Sucipto dijadwalkan berangkat bersama rombongan calon haji dari Banyumas yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 73 melalui Embarkasi Solo. Sebuah perjalanan spiritual yang telah ia perjuangkan lebih dari satu dekade.

Bagi Sucipto, keberangkatan itu bukan sekadar perjalanan lintas negara, melainkan buah dari ribuan hari menahan keinginan, menyisihkan uang receh, dan menjaga keyakinan agar cita-cita itu tak padam oleh keterbatasan ekonomi.

“Profesi saya (tukang) parkir, kalau malam bantu jaga keamanan di perumahan. Dari situ saya nabung sedikit-sedikit,” kata Sucipto, saat ditemui di rumah sederhananya di Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara.

Rumah itu tampak ramai beberapa hari terakhir. Tetangga, kerabat, hingga warga dari lingkungan tempatnya bekerja datang silih berganti. Sebagian membawa doa, sebagian lain membawa rasa bangga.

Di sudut ruang tamu, koper berwarna gelap telah tertata rapi. Beberapa perlengkapan ibadah sudah dipersiapkan. Sucipto tinggal menunggu hari keberangkatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perjalanan menuju titik itu sama sekali tidak singkat. Ia mengaku mulai menabung secara serius untuk berangkat haji sejak tahun 2012.

Saat itu, ketiga anaknya masih membutuhkan biaya pendidikan. Dalam kondisi ekonomi terbatas, Sucipto harus membagi penghasilannya untuk kebutuhan rumah tangga, sekolah anak, serta tabungan haji.

Halaman Selanjutnya

Setiap kali ada sisa uang, berapa pun nominalnya, ia sisihkan. Kadang hanya puluhan ribu rupiah. Kadang lebih, jika rezeki sedang baik.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |