LPS: Tabungan Orang Kaya Terus Meningkat di Tengah Gejolak Global

6 days ago 8

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:11 WIB

Jakarta, VIVA – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu melaporkan, meskipun saat ini kondisi global tengah bergejolak, namun LPS mencatat bahwa jumlah simpanan masyarakat tetap mengalami pertumbuhan.

Dia merinci, terdapat dua kelompok simpanan yakni di bawah Rp 100 juta dan di atas Rp 5 miliar. Dimana hingga Mei 2026, kelompok simpanan di bawah Rp 100 juta tercatat tumbuh 1,84 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara untuk kelompok simpanan di atas Rp 5 miliar, tercatat tumbuh hingga 21,6 persen per Maret 2026.

"Tidak ada dampak dari pengaruh gejolak global (terhadap pertumbuhan jumlah simpanan masyarakat)," kata Anggito dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Ketua LPS Anggito Abimanyu

"Untuk yang simpanan di bawah Rp 100 juta, per Mei 2026 masih tumbuh 1,84 persen. Sementara untuk yang simpanan di atas Rp 5 miliar, per Maret 2026 tumbuh 21,6 persen," ujarnya.

Anggito menjelaskan, pertumbuhan simpanan di atas Rp 5 miliar antara lain turut ditopang oleh kebijakan Kementerian Keuangan, yang menempatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sejumlah bank Himbara.

"Namun, kalau saya berandai-andai, tanpa menghitung dana pemerintah pun masih tetap tumbuh 9,6 persen," kata Anggito.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apabila dilihat secara nominal, Anggito menjelaskan bahwa simpanan di bawah Rp 100 juta tumbuh 11,26 persen dari seluruh simpanan. Sementara untuk simpanan di atas Rp 5 miliar, tercatat tumbuh 57,88 persen dari seluruh simpanan.

"Sementara jika dilihat secara agregat, pertumbuhan DPK per Maret 2026 adalah 13,57 persen. Jadi, tidak ada pengaruh gejolak global terhadap pola atau behavior dari simpanan kita," ujarnya.

Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026

Bos BI Blak-blakan Biang Kerok Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Perry secara blak-blakan menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi bukan karena fundamental ekonomi Indonesia melemah, namun karena sejumlah pengaruh dari faktor global.

img_title

VIVA.co.id

7 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |