Masa Depan Pembangunan Papua Bakal Digagas di Konferensi Analisis Papua Strategis III, Simak Wacananya

2 days ago 4

Senin, 11 Mei 2026 - 20:27 WIB

Jakarta, VIVA – Selama bertahun-tahun, pembangunan Papua sering dibicarakan dalam angka-angka besar tentang investasi, infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, hingga berbagai program percepatan pembangunan nasional. Jalan dibangun, bandara diperluas, jaringan konektivitas diperkuat, dan dana otonomi khusus terus digelontorkan.

Namun di balik seluruh upaya itu, masih tersisa satu pertanyaan mendasar yang belum sepenuhnya terjawab, yakni apakah pembangunan benar-benar tumbuh dari cara hidup, pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat Papua sendiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika Papua menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan infrastruktur fisik.

Masyarakat Papua.

Photo :

  • ANTARA FOTO/Gusti Tanati

Ketimpangan pembangunan antara wilayah pesisir dan pegunungan masih terjadi, akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan belum merata, sementara perubahan global seperti transformasi digital, perubahan iklim, dan transisi menuju ekonomi hijau mulai menghadirkan tekanan baru bagi masyarakat lokal.

Dalam situasi seperti itu, pembangunan tidak lagi cukup hanya mengandalkan pendekatan yang seragam dan datang dari atas ke bawah. Oleh karena itu, munculnya gagasan pembangunan berbasis etnosains di Papua menjadi sesuatu yang menarik untuk dicermati.

Pendekatan tersebut akan menjadi salah satu bahasan utama dalam Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III Tahun 2026 yang segera digelar pada 27–29 Mei 2026 di Kota Jayapura, dengan tema “Inovasi Pembangunan Papua Berbasis Etnosains”.

Ketua Panitia Konferensi APS III, Richard Patty mengatakan, gagasan ini mencoba menempatkan pengetahuan lokal, budaya, dan pengalaman masyarakat adat sebagai bagian penting dalam merancang masa depan Papua.

"Konferensi ini hadir sebagai platform strategis untuk mendialogkan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih kontekstual dan berbasis bukti," kata Richard dalam keterangannya, Senin, 11 Mei 2026.

Dia menjelaskan, konferensi itu bukan sekadar forum diskusi biasa. Di balik tema yang diangkat, tersimpan upaya untuk mengubah cara pandang terhadap pembangunan Papua.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama ini, pembangunan sering dipahami sebagai proses menghadirkan modernitas dari luar ke dalam Papua. Padahal masyarakat adat Papua sesungguhnya telah memiliki sistem pengetahuan yang berkembang selama ratusan tahun dan terbukti mampu menjaga keseimbangan hidup dengan alam.

"Jadi memang kompleksitas tantangan pembangunan di Tanah Papua tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan konvensional yang bersifat top-down dan seragam. Pendekatan berbasis etnosains menjadi alternatif solusi yang akan mampu menjembatani kearifan lokal dengan inovasi modern," ujar Richard.

Halaman Selanjutnya

Wacana itu sangat relevan dengan realitas pembangunan global saat ini. Dunia mulai menyadari bahwa modernisasi yang mengabaikan budaya lokal sering kali justru melahirkan masalah baru, mulai dari kerusakan lingkungan, konflik sosial, hingga hilangnya identitas masyarakat adat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |