Minimnya Dampak Ekonomi Kuartal I hingga Geopolitik TimTeng Bikin Rupiah Makin Anjlok ke Rp 17.515

1 day ago 3

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:33 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan, usai dibuka di level Rp 17.489 per dolar AS, turun 75 poin atau 0,43 persen pada pembukaan perdagangan pagi tadi.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 12 Mei 2026 hingga pukul 10.56 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 17.515 per dolar AS alias melemah 101 poin atau 0,58 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.414 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, pelemahan rupiah yang mencapai 17.500 per dolar AS itu masih akan terus melemah hingga ke level Rp 17.550 per dolar AS pada pekan ini.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal

Faktor internal yang turut menyebabkan pelemahan rupiah itu adalah fakta bahwa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, nyatanya tidak serta-merta bisa membuat ekonomi membaik dan membuat rupiah mengalami penguatan.

"Karena apa? Pembentukan dari pertumbuhan ekonomi kuartal I itu adalah dari konsumsi masyarakat, kemudian dari belanja negara. Itu yang membuat (pertumbuhan ekonomi) tidak berdampak terhadap investasi," kata Ibrahim kepada awak media, Selasa, 12 Mei 2026.

"Walaupun investasi mengalami kenaikan, prosentasinya sangat kecil sekali," ujarnya.

Selain itu, Ibrahim menjelaskan bahwa dampak dari kekacauan di Timur Tengah terutama dari gejolak Selat Hormuz, telah menciptakan ancaman tersendiri bagi Indonesia. Karena sejak bulan Januari-April 2026, sudah 40.000 buruh baik di sektor padat karya seperti manufaktur tekstil, garmen, serta elektronik, sudah terkena PHK.

"Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan, PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan," kata Ibrahim.

Kemudian, lanjut Ibrahim, saat ini masyarakat yang bekerja itu kebanyakan di sektor non-formal, dimana hampir 87,74 juta masyarakat tercatat sebagai pekerja informal. Artinya, saat ini umumnya kebanyakan masyarakat justru bekerja sebagai wiraswasta, 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Artinya apa? Artinya bahwa saat ini yang ada di Indonesia, yang bekerja secara formal itu sangat sedikit sekali dibandingkan dengan pekerja informal yang jumlahnya mencapai sebanyak 87,74 juta orang pekerja," ujarnya.

Sementara dari sisi eksternal, Ibrahim menjelaskan bahwa situasi Timur Tengah kembali memanas usai Amerika Serikat (AS) menolak proposal yang dibuat oleh Iran yang dimediatori oleh Pakistan dan Qatar. Penolakan inilah yang membuat ketegangan baru karena secara tak terduga serangan-sekerangan militer kecil juga masih terjadi di Selat Hormuz.

Halaman Selanjutnya

"Artinya ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas, walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump. Tapi kita lihat bahwa kenyataannya di lapangan Amerika terus melakukan penyerangan-penyerangan di Selat Hormuz, dan Iran pun juga melakukan serangan balik terhadap pasukan-pasukan Amerika sendiri," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |