VIVA – Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Langkah ini terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan menunda rencana serangan lanjutan terhadap Iran di tengah belum jelasnya kelanjutan gencatan senjata.
Langkah Iran dinilai sebagai sinyal tegas bahwa konflik belum benar-benar mereda. Pasalnya, meski Trump menyatakan penangguhan serangan untuk membuka peluang dialog, pihak Teheran justru belum memberikan tanda setuju terhadap perpanjangan gencatan senjata, seperti dilansir Reuters.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di tengah ketidakpastian itu, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps dilaporkan menyita dua kapal asing yang melintas di Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut dituduh melanggar aturan pelayaran, termasuk memanipulasi sistem navigasi.
Seorang pejabat Iran menyatakan, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mustahil dilakukan selama blokade laut oleh Amerika Serikat masih berlangsung. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata hanya masuk akal jika tekanan militer benar-benar dihentikan.
“Kalian tidak mencapai tujuan melalui agresi militer, dan tidak akan berhasil lewat tekanan. Satu-satunya jalan adalah mengakui hak rakyat Iran,” ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan dari media sosial.
Sementara itu, situasi di Washington juga mengalami dinamika. Pemerintahan Trump melakukan perombakan internal dengan mencopot Menteri Angkatan Laut, John Phelan, tanpa penjelasan resmi. Keputusan tersebut memperkuat kesan bahwa kebijakan militer AS terhadap Iran masih belum stabil.
Meski Trump sempat melontarkan ancaman untuk menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik, langkah itu kini ditahan. Namun, ancaman konflik tetap membayangi karena belum ada kesepakatan konkret antara kedua pihak.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang di kawasan Timur Tengah, terutama di Iran dan Lebanon. Kelompok Hezbollah yang didukung Iran juga ikut terlibat dalam pertempuran melawan Israel, memperluas eskalasi konflik.
Di sisi lain, militer AS terus memperketat blokade laut terhadap Iran. Lebih dari 30 kapal disebut telah diminta untuk berbalik arah, sementara beberapa tanker Iran di kawasan Asia juga dicegat dan dialihkan dari rute semula.
Halaman Selanjutnya
Dampaknya langsung terasa pada pasar global. Harga minyak mentah dunia melonjak, dengan acuan Brent crude oil menembus di atas 100 dolar AS per barel dalam perdagangan Asia.

5 hours ago
1



























