Jakarta, VIVA – Viral potongan ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla di Universitas Gadjah Mada (UGM), memicu polemik di media sosial. Konten tersebut dikaitkan dengan isu sensitif bernuansa SARA, hingga memancing beragam reaksi publik.
Namun, peneliti dari Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, menilai viralnya video itu tidak lepas dari praktik manipulasi konteks yang kerap terjadi di ruang digital.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Apa yang terjadi adalah video aslinya 43 menit yang membahas tentang "Strategi Diplomasi Indonesia dalam Mitigasi Eskalasi Perang Regional Multipolar", lalu dipotong pendek-pendek sehingga kehilangan konteksnya, baik historis maupun akademiknya," kata Rizal Nova, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Ia menjelaskan, potongan video tersebut membuat makna asli pernyataan JK menjadi bias. Termasuk ketika muncul narasi soal “mati syahid” yang kemudian dipersepsikan berbeda dari maksud awal.
"Kata 'Mati Syahid' adalah dalam konteks refleksi historis terkait konflik di Poso dan Ambon, tetapi diputarbalikkan seolah JK mengajarkan dan mendukung doktrin kekerasan," ujar dia.
Tak hanya soal konteks, penyebaran video tersebut juga disebut berlangsung secara masif dan terstruktur. Data analisis menunjukkan puluhan ribu percakapan muncul di berbagai platform digital dalam waktu singkat, dengan sebagian di antaranya bernada negatif hingga memicu kemarahan publik.
"Dilihat dari penyebarannya ini baru ramai sebulan setelah ceramah di UGM," katanya.
Menurut Rizal, pola penyebaran seperti ini berpotensi memicu konflik sosial berbasis sentimen agama jika tidak dikelola dengan baik.
"Terlepas benar atau tidaknya, ini berarti ada upaya mobilisasi berbasis sentimen agama, meski saya berharap ini tidak membesar," ujar Kang Nova.
Ia memetakan adanya tiga tahapan dalam fenomena ini. Mulai dari kemunculan potongan video sebagai pemicu, kemudian diperkuat dengan amplifikasi di media sosial, hingga akhirnya memicu polarisasi di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Ada dikotomi yang terjadi di publik, antara membela JK atau membela umat Kristen. Ini yang sangat berbahaya," ucap Nova.
Sebagai langkah pencegahan, ia mendorong peningkatan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh konten yang dipotong atau dimanipulasi.
Halaman Selanjutnya
"Bisa dilakukan dengan kampanye "stop dulu" atau "tonton dulu secara utuh", jangan yang potongan. Kedua, Fact Checker harus diperkuat, dan ketiga masyarakat harus diberitahu bagaimana dekonstualisasi itu bekerja, atau selective editing itu dilakukan, dan AI generate konten digunakan untuk memanipulasi opini," tutur dia.

1 day ago
4



























