Penjualan Rumah Tipe Kecil Anjlok, Mulai Sepi Peminat?

2 days ago 3

Senin, 11 Mei 2026 - 12:55 WIB

Jakarta, VIVA – Penjualan rumah di pasar primer turun tajam di awal 2026. Terutama untuk rumah tipe kecil yang selama ini menjadi penopang pasar.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia triwulan I 2026, penjualan properti residensial secara keseluruhan terkontraksi 25,67 persen secara tahunan (yoy). Padahal pada triwulan IV 2025, penjualan masih tumbuh 7,83 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penurunan paling dalam terjadi pada rumah tipe kecil. Dalam laporan BI disebutkan, pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil terkontraksi sebesar 45,59 persen (yoy), dari sebelumnya tumbuh tinggi sebesar 17,32% (yoy).

Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah justru tumbuh 8,28 persen secara tahunan, berbalik dari triwulan sebelumnya yang minus 4,84 persen. Adapun rumah tipe besar masih terkontraksi 8,03 persen, meski membaik dibanding sebelumnya minus 10,95 persen.

Tak hanya penjualan, pertumbuhan harga rumah juga melambat. BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 tumbuh 0,62 persen secara tahunan, lebih rendah dibanding triwulan IV 2025 sebesar 0,83 persen.

“Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer tumbuh terbatas,” tulis BI dalam laporannya, sebagaimana dikutip pada Senin, 11 Mei 2026.

Perlambatan terjadi pada seluruh tipe rumah. Harga rumah tipe kecil tumbuh 0,61 persen secara tahunan, melambat dari 0,76 persen. Rumah tipe menengah tumbuh 0,88 persen dari sebelumnya 1,12 persen, sementara rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen dari 0,72 persen.

Secara wilayah, dari 18 kota yang disurvei, sebanyak 10 kota mengalami perlambatan harga dan tiga kota mencatat penurunan harga rumah secara tahunan. Surabaya menjadi salah satu kota dengan pelemahan terdalam setelah harga rumah terkontraksi 0,27 persen secara tahunan.

Di sisi lain, Padang dan Balikpapan masih mencatat kenaikan harga rumah masing-masing 1,21 persen dan 1,44 persen secara tahunan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

BI juga mencatat sejumlah tantangan yang membebani sektor properti. Hambatan terbesar berasal dari kenaikan harga bahan bangunan sebesar 20,97 persen, diikuti masalah perizinan dan birokrasi 18,15 persen, serta suku bunga KPR 16,47 persen.

Selain itu, tingginya uang muka KPR dan faktor perpajakan juga masih menjadi kendala. Meski begitu, suku bunga KPR tercatat stabil di level 7,42 persen pada triwulan I 2026.

Halaman Selanjutnya

Dari sisi pembiayaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal dengan porsi 80,66 persen. Sementara dari sisi konsumen, pembelian rumah melalui KPR masih mendominasi dengan pangsa 69,87 persen dari total transaksi rumah primer.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |