Perang Iran Bikin Panik, AS Lepas Puluhan Juta Barel Cadangan Minyak Strategis

1 day ago 2

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:10 WIB

VIVA Amerika Serikat dilaporkan mulai melepas 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis Nasionalnya ke perusahaan-perusahaan energi. Beberapa perusahaan itu antara lain Exxon Mobil, Trafigura, dan Marathon Petroleum.

Kebijakan ini diketahui merupakan bagian dari rencana besar Departemen Energi AS untuk menggelontorkan total 172 juta barel minyak ke pasar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman presstv.ir, Selasa 12 Mei 2026, langkah tersebut harus diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran soal pasokan bahan bakar global yang makin ketat dan ketidakstabilan berkepanjangan di kawasan Teluk Persia.

Seperti diketahui, Selat Hormuz, ditutup Iran sejak awal Maret, beberapa hari setelah perang yang disebut dimulai pada 28 Februari.

Republik Islam Iran sebelumnya memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan kapal milik negara musuh maupun sekutunya yang melintasi jalur tersebut sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel.

Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan besar terhadap arus energi dunia dan menyebabkan harga minyak bergerak sangat liar. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari empat persen hingga menembus US$105 per barel atau sekitar Rp1,83 juta per barel sebelum kembali turun ke kisaran yang sama setelah Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan terbaru Iran terkait proposal gencatan senjata dari Washington.

Iran diketahui menyampaikan posisinya melalui Pakistan, yang berperan sebagai mediator antara kedua pihak. Teheran menuntut penghentian perang secara segera serta jaminan agar tidak ada lagi serangan AS maupun Israel di masa depan.

Meski harga minyak sempat sedikit mereda, bank investasi JP Morgan memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran US$100-an rendah atau sekitar Rp1,75 juta per barel sepanjang tahun ini, dengan rata-rata sekitar US$97 per barel atau setara Rp1,69 juta per barel pada 2026. Bank tersebut juga memperingatkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan langsung memulihkan kondisi pasokan global seperti semula.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Yang paling penting, analisis ini tidak menunjukkan adanya normalisasi cepat setelah Selat dibuka kembali,” tulis JP Morgan.

Mereka menilai hambatan nantinya akan bergeser dari persoalan jalur selat menjadi keterbatasan kapal tanker, peningkatan kapasitas kilang, dan kendala logistik lainnya.

Halaman Selanjutnya

Lonjakan harga minyak juga mulai menguntungkan perusahaan energi besar. Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, melaporkan kenaikan laba kuartalan lebih dari 25 persen. Sementara itu, BP dan Shell juga mencatat lonjakan keuntungan signifikan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |