Peringati 40 Tahun 'People Power', Sekjen PDIP Hasto Hadiri Konsolidasi Demokrasi Regional di Filipina

6 hours ago 3

Kamis, 26 Maret 2026 - 20:58 WIB

Manila, VIVA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menghadiri pembukaan rangkaian kegiatan Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Hotel Dusit Thani, Manila, Kamis 26 Maret 2026.

Forum bertajuk "All About Democracy" ini menjadi ajang konsolidasi kekuatan politik pro-demokrasi Asia di tengah tantangan kemunduran demokrasi global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kehadiran Hasto di Manila didampingi Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDIP Hanjaya Setiawan, pengurus DPC PDIP Depok drg. Rahma Charliyan, serta beberapa simpatisan Partai.

Satu persatu, para petinggi parpol yang hadir diperkenalkan oleh Moritz Kleine-Brockhoff yang pernah menjabat Kepala Wilayah Asia Tenggara & Timur untuk Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF).

Saat tiba menyebut Hasto, Moritz mengatakan Hasto sosok pejuang demokrasi yang bahkan sempat dipenjara karena kriminalisasi. Pernyataan Moritz tersebut sontak mengundang applause dan tepuk tangan. Hasto yang berdiri lalu memberikan tanda hormat kepada seluruh hadirin.

"Hasto adalah salah satu tokoh politik favorit saya," kata Moritz.

Acara dibuka secara resmi oleh Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo "Erin" Tañada III. Dalam pidatonya, Tañada menekankan momen bersejarah peringatan 80 tahun Partai Liberal Filipina dan 40 tahun Revolusi People Power (EDSA). Ia menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan harus didasarkan pada partisipasi aktif, bukan sekadar tradisi.

"Demokrasi harus dimulai dari barisan kita sendiri," tegas Erin Tañada, yang juga menandai dimulainya era baru pemilihan pimpinan CALD secara langsung.

Erin juga menjelaskan bahwa di seluruh kawasan dan dunia saat ini, kita melihat kemunduran demokrasi, pengikisan kepercayaan terhadap institusi, dan tantangan yang berkembang terhadap kebebasan fundamental.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Biarlah pertemuan di Manila ini menjadi jawaban kita. Biarlah ini menjadi ruang di mana kita menegaskan kembali komitmen kita tidak hanya pada idealisme demokrasi, tetapi pada tindakan demokrasi. Biarlah ini menjadi tempat di mana kita memperkuat kemitraan kita, menajamkan strategi kita, dan memperbarui tekad kita," urai Tanada.

Sesaat setelah pembukaan, agenda langsung dilanjutkan dengan sesi seminar penting mengenai peran perempuan bertajuk "Democratic Resilience at Risk: Violence Against Women in Politics in Asia". Sesi ini menghadirkan tokoh ikonik demokrasi Filipina, Leila de Lima, sebagai panelis utama.

Halaman Selanjutnya

De Lima bersama panelis dari Taiwan dan Thailand membedah ancaman kekerasan serta disinformasi yang menyasar politisi perempuan sebagai tantangan nyata bagi ketahanan demokrasi di kawasan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |