VIVA –Sosok Kiai Haji Imam Jazuli merupakan salah satu tokoh pesantren modern dan inovatif. Ia dikenal sebagai kiai mudah inspiratif dengan latar belakang pendidikan pesantren Lirboyo dan akademisi Al Azhar, Mesir.
Di kalangan mahasiswa Indonesia saat yang menempuh pendidikan di Al Azhar Mesir, sosok Kiai Haji Imam Jazuli sendiri dikenal sebagai aktivis tulen. Dirinya sempat mengikuti sejumlah kegiatan mahasiswa seperti ICMI Orsat Cairo, KMNU Mesir, pers mahasiswa hingga Senat Ushuluddin PPMI.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, beliau tetap bisa membagi waktu untuk pendidikannya. Dirinya diketahui bisa lulus tepat waktu. Ini menjadi fenomena langka di kalangan aktivis Al Azhar saat itu. Biasanya kalau lulusnya tidak tepat waktu, organisasinya yang mandek. Namun hal itu tidak berlaku bagi Izul, sapaannya.
Dari Aktivis ke Pengusaha
Memasuki tahun 2000, Izul memilih untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjananya. Enam tahun berselang dirinya bertemu dengan DR. KH. Nanang Firdaus Masduki, Lc. MM di kawasan Fatmawati Jakarta Selatan. Meski enam tahun tak bertemu namun diakui Nanang semangat Izul sama sama yakni menggebu, bicaranya cepat, dan gagasannya seringkali out of the box.
Tapi ada yang berbeda. Izul bukan lagi aktivis kampus yang mengandalkan proposal. Dia telah menjelma menjadi pengusaha dan seorang ‘saudagar gagasan’.
Ia mendirikan PT Fikruna dan Fikruna Center yang kantornya ada di Jakarta dan Bandung. Perusahaan ini bukan sekadar bisnis, tapi jembatan ilmu. Dia membantu santri menembus universitas di ASEAN, Timur Tengah, hingga Eropa. Bukan cuma konsultasi, tapi diantar sampai gerbang kampus. Hal yang pada saat itu sepertinya belum pernah dilakukan oleh siapapun.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Lewat usahanya ini, dia mengorkestrasi para dai lulusan Al-Azhar untuk masuk ke jantung BUMN dan Kementerian. Dia tahu betul kualitas kawan-kawannya, dan dia tahu ke mana kualitas itu harus disalurkan.
Melalui usaha itu juga Izul rupanya tidak mau sekadar kejar tayang menggelar ceramah agama yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tapi berani ambil risiko melakukan investasi training serius untuk pengembangan SDM berbasis spiritual.
Halaman Selanjutnya
Ini langkah yang patut diacungi jempol, karena mengubah paradigma yang selama ini hanya fokus pada kuantitas pengajian menjadi kualitas manusia seutuhnya paduan antara cerdas intelektual dan jernih spiritual, sebuah kombinasi langka yang akan melahirkan energi dan SDM unggul.

1 day ago
4



























