Perusahaan Ramai-Ramai Pangkas Karyawan demi AI, Ini Data Terbarunya

1 day ago 3

Selasa, 12 Mei 2026 - 21:25 WIB

Jakarta, VIVA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin sering dikaitkan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai perusahaan global. Teknologi ini bahkan disebut menjadi alasan utama perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja dalam dua bulan terakhir.

Laporan terbaru dari perusahaan penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas menunjukkan, AI menjadi penyebab terbesar PHK pada April 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ironisnya, tren ini muncul di tengah masifnya investasi perusahaan teknologi ke pengembangan AI dan otomatisasi bisnis. Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 21.490 PHK pada April terkait dengan AI. 

Jumlah tersebut setara 26 persen dari total 88.387 PHK yang diumumkan perusahaan selama bulan tersebut. “Terlepas dari apakah pekerjaan individu benar-benar digantikan AI atau tidak, dana untuk posisi tersebut memang sedang dialihkan,” ujar pakar ketenagakerjaan sekaligus Chief Revenue Officer Challenger, Gray & Christmas, Andy Challenger, sebagaimana dikutip dari CBS News, Selasa, 12 Mei 2026.

Secara keseluruhan, jumlah PHK pada April naik 38 persen dibandingkan Maret 2026. Sektor teknologi menjadi penyumbang terbesar dengan total 33.361 PHK.

Sejumlah perusahaan disebut mulai memangkas biaya tenaga kerja demi mengalihkan anggaran ke pengembangan AI. Kondisi ini terjadi seiring semakin agresifnya perusahaan mengadopsi teknologi otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi bisnis.

Meski begitu, sejumlah ekonom menilai AI belum tentu menjadi satu-satunya penyebab gelombang PHK tersebut. Sebagian perusahaan dinilai menggunakan AI sebagai alasan untuk melakukan efisiensi di tengah tekanan ekonomi global.

Selain AI, Challenger juga mencatat kondisi ekonomi dan pasar menjadi faktor terbesar penyebab PHK sepanjang 2026. Faktor tersebut tercatat memicu 53.058 pemangkasan tenaga kerja tahun ini.

Perang Iran serta kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut ikut memperburuk kondisi bisnis dan mendorong perusahaan melakukan pengurangan pegawai.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, data pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai menunjukkan dampak AI terhadap pekerjaan kantoran. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menyebut PHK di sektor jasa profesional dan bisnis meningkat 150 ribu dibandingkan tahun lalu. Sektor tersebut dinilai paling rentan terdampak otomatisasi AI.

Namun, sejumlah ekonom percaya AI pada akhirnya juga dapat menciptakan jenis pekerjaan baru. Teknologi ini diperkirakan bakal memunculkan kebutuhan profesi yang sebelumnya belum pernah ada, seperti yang pernah terjadi pada revolusi teknologi sebelumnya.

Halaman Selanjutnya

Perdebatan soal dampak AI terhadap lapangan kerja pun masih terus berlangsung. Sebagian pihak melihat AI sebagai ancaman bagi pekerja kantoran, sementara lainnya menilai teknologi ini justru akan membuka peluang ekonomi dan produktivitas baru di masa depan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |