Produsen EV Tahun Depan Diprediksi Banyak yang Tutup

4 weeks ago 8

Senin, 29 Desember 2025 - 16:36 WIB

Shanghai, VIVA – Industri mobil listrik China memasuki fase krusial. Sejumlah analis memperingatkan 2026 akan menjadi “tahun penentuan hidup-mati” bagi puluhan produsen kendaraan listrik (EV), seiring melemahnya permintaan domestik, berkurangnya dukungan pemerintah, dan kelebihan kapasitas produksi yang makin nyata.

Sekitar 50 produsen EV di daratan China yang belum pernah membukukan keuntungan kini berada di bawah tekanan besar: mengecilkan bisnis, merger, atau bahkan menutup operasi. Pasar otomotif China diperkirakan mencatat penurunan penjualan tahun depan yang bisa menjadi kontraksi pertama sejak 2020—meski perang diskon masih terus berlangsung.

“Waktu tidak berpihak pada pemain yang mobilnya gagal memikat pengemudi muda. Kinerja tahun depan akan sangat krusial bagi sebagian besar perakit EV yang masih merugi,” kata Qian Kang, pemilik pabrik komponen PCB otomotif di Zhejiang seperti dikutip VIVA Otomotif dari CNA, Senin 29 Desember 2025.

Seiring berakhirnya subsidi tunai dan insentif pajak, pasar diperkirakan tetap lesu meski produsen menawarkan potongan harga besar. Beijing baru akan mengumumkan pada Januari apakah subsidi tukar tambah 20.000 yuan (sekitar US$2.845) akan diperpanjang. Saat ini pembeli EV masih bebas pajak pembelian 10 persen, tetapi mulai Januari akan dikenai 5 persen hingga tarif normal 10 persen kembali pada 2028.

Sejumlah lembaga keuangan besar telah mengonfirmasi outlook suram itu. Deutsche Bank memprediksi pengiriman kendaraan di China bisa anjlok 5 persen pada 2026. JPMorgan sebelumnya memperkirakan penjualan mobil—baik bensin maupun listrik akan turun 3–5 persen akibat kapasitas berlebih yang memicu perang harga brutal selama tiga tahun terakhir dan memukul profitabilitas.

Padahal, hampir semua produsen EV China sudah menggelontorkan investasi besar untuk riset dan pengembangan demi keunggulan teknologi. Namun hanya segelintir yang benar-benar berhasil mencatat laba, seperti BYD serta Seres yang didukung Huawei.

“Euforia penggalangan dana di sekitar industri EV China sudah berakhir. Sekarang ini murni soal bertahan hidup. Yang untung akan bertahan, yang merugi akan segera kehabisan napas finansial,”  kata investor malaikat berbasis Shanghai, Yin Ran.

Karena itu, banyak pabrikan diprediksi akan semakin agresif merambah pasar luar negeri. Dengan kapasitas produksi China yang diperkirakan mencapai 50 juta unit sementara output hanya sekitar 33 juta, ekspor dianggap jalan paling realistis mengangkat margin. Menurut analis JPMorgan, margin bersih rata-rata per unit saat ini sekitar 5.000 yuan, tetapi bisa melonjak hingga 20.000 yuan jika penjualan ekspor meningkat karena harga jual di luar negeri lebih tinggi.

Halaman Selanjutnya

Namun tidak semua punya waktu panjang. AlixPartners menilai hanya 15 merek EV China sekitar 10 persen yang akan mencetak laba dalam lima tahun ke depan. Produsen dengan penjualan di bawah 1.000 unit per bulan diprediksi akan tersingkir, sementara China EV100 memperingatkan lima hingga enam joint venture Sino-asing dengan penjualan tahunan di bawah 100.000 unit berpotensi likuidasi. Beberapa merek internasional seperti Ford, Mazda, dan Lincoln berada dalam kelompok berisiko tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |