Rupiah Menguat Topang Upaya Berat Pemerintah Penuhi Kebutuhan Pembiayaan Utang 2026

2 hours ago 1

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:58 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.801 per Selasa, 27 Januari 2026. Posisi rupiah itu melemah 22 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.779 pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 28 Januari 2026 hingga pukul 09.15 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.744 per dolar AS. Posisi itu menguat 24 poin atau 0,14 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.768 per dolar AS.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah diprediksi akan menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026.

Meski target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp 832,21 triliun, kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar yakni mencapai Rp 1.650 triliun.

"Angka tersebut meliputi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran, dan yang lebih signifikan adalah untuk melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo pada tahun berjalan," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 28 Januari 2026.

Risiko utama yang mengemuka adalah risiko pembiayaan kembali (refinancing risk), yang menguat seiring dengan memendeknya tren rata-rata jatuh tempo utang atau Average Time to Maturity (ATM) dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi prakiraan 7,7 tahun pada 2026.

Artinya, risiko tidak dapat melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo atau adanya potensi biaya utang yang tinggi pada saat refinancing.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi risiko kekurangan (shortage risk) akibat ketidakpastian kondisi ekonomi makro dan pasar keuangan global, yang membuat investor khususnya asing bersikap sangat hati-hati.

Ketergantungan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen utama pun menghadapi tantangan kompleks. Investor asing dilaporkan masih berada dalam posisi ‘wait and see’, salah satunya guna mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai kurang hati-hati.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.760 - Rp 16.790," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Sebagai informasi, pasar global berfokus terhadap pertemuan kebijakan dua hari The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berakhir pada hari Rabu pekan ini. Dimana pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil, setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |