Rusia Dapat Jempol dari IMF

6 hours ago 1

Rabu, 15 April 2026 - 19:59 WIB

Jakarta, VIVA - Dana Moneter Internasional (IMF) telah menaikkan prospek pertumbuhan Rusia, dengan alasan harga komoditas yang lebih tinggi, sambil memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah membebani perekonomian global.

Dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia terbaru yang dirilis pada Selasa, 14 April waktu setempat atau Rabu hari ini, 15 April 2026 WIB, IMF menyatakan bahwa PDB Rusia diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,1 persen pada 2026, menandai revisi ke atas sebesar 0,3 poin persentase dibandingkan dari perkiraan awal tahun ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyesuaian tersebut didorong oleh "harga komoditas yang lebih tinggi," kata laporan itu, menambahkan bahwa "momentum" tersebut diperkirakan akan berlanjut hingga 2027.

Inflasi diproyeksikan sebesar 5,6 persen tahun ini, turun dari 8,7 persen pada tahun lalu, dan akan semakin menurun menjadi 4,3 persen pada 2027.

Sementara Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia menawarkan prospek yang lebih optimis, di mana memperkirakan pertumbuhan PDB negeri Beruang Putih sebesar 1,3 persen pada tahun ini dan 2,8 persen pada tahun depan.

Revisi perkiraan IMF ini muncul di tengah tekanan baru yang kembali menerpa pasar energi global akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran serta serangan balasan Teheran di seluruh wilayah tersebut.

Konflik ini secara efektif telah menghambat aliran melalui Selat Hormuz, jalur utama yang menyumbang sebagian besar pasokan minyak mentah dan gas alam global.

IMF juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak mentah dan kerusakan infrastruktur energi penting meningkatkan prospek "krisis energi besar" jika permusuhan berlanjut.

"Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi akan 'sangat rentan'," kata IMF, seperti dikutip dari situs Russia Today. Dengan latar belakang inI maka IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan globalnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ekonomi dunia diprediksi akan tumbuh sebesar 3,1 persen pada tahun ini, turun dari 3,4 persen perkiraan sebelumnya, sebelum pulih kembali menjadi 3,2 persen pada 2027.

IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di AS dan mata uang dolar yang lebih lemah. Zona Euro pun setali tiga uang. IMF memangkas prospeknya, dengan mengatakan bahwa perlambatan tersebut mencerminkan "dampak negatif dari konflik Timur Tengah".

Halaman Selanjutnya

Hal ini menambah "efek berkepanjangan" dari harga energi yang lebih tinggi sejak eskalasi konflik Ukraina, "yang menyeret sektor manufaktur," di samping tekanan dari apresiasi Euro, menurut laporan IMF.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |