Sepupu PM Kamboja Punya Saham di Perusahaan Terkait Scam, Ngaku Tak Pernah Terima Keuntungan

1 week ago 3

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:16 WIB

VIVA – Hun To, sepupu Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, mengakui bahwa dirinya memiliki 30 persen saham di platform pembayaran digital yang dikaitkan dengan dugaan penipuan siber (scamming) dan pencucian uang yang telah dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat.

Pemerintah AS sebelumnya menuding Huione Group, perusahaan induk yang menaungi sejumlah layanan e-commerce, pembayaran, dan pertukaran kripto—termasuk Huione Pay—sebagai pihak yang mencuci dana bagi jaringan kriminal transnasional yang menjalankan penipuan dari kawasan Asia Tenggara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mantan ketua Huione, Li Xiong, telah diekstradisi ke Tiongkok bulan lalu. Otoritas Tiongkok menyebutnya sebagai figur kunci dalam sindikat perjudian dan penipuan lintas negara berskala besar yang diduga terlibat dalam berbagai tindak kejahatan.

"Saya ingin memberi tahu publik bahwa saya memang memiliki 30 persen saham di HUIONE PAY PLC," kata pengusaha Hun To dalam sebuah pernyataan.

Berdasarkan laporan likuidator Reachs & Partners, Li menguasai 62 persen saham Huione Pay, sementara Hun To memegang 30 persen. Proses likuidasi Huione Pay disebut telah rampung pada Oktober 2025.

Hun To menegaskan bahwa ia tidak terlibat dalam pengelolaan operasional Huione Pay dan "tidak pernah menerima keuntungan, dividen, atau aset apa pun dari perusahaan tersebut".

Sebelumnya, kerabat perdana menteri itu tercatat sebagai direktur Huione Pay dalam registrasi bisnis daring milik Kementerian Perdagangan.

Menurut likuidator, Huione Pay masih memiliki saldo kas bersih lebih dari US$1,1 juta setelah seluruh kewajiban kepada kreditur diselesaikan. Dana tersisa kemudian dibagikan kepada "pemegang saham sebenarnya yang bertanggung jawab atas operasional perusahaan di masa lalu".

"Saya tidak menerima bagian dari sisa uang setelah likuidasi," kata Hun To.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak bulan lalu, sejumlah pengunjuk rasa menuntut pencairan dana mereka di platform Huione yang kini beroperasi dengan nama H-Pay, yang sebelumnya dikenal sebagai Huione Pay. Mereka mengaku tidak dapat mengakses rekening sejak Desember.

Sementara itu, Bank Nasional Kamboja menyatakan izin operasional platform Huione telah dicabut. Para kreditur Huione Pay diminta menempuh jalur hukum melalui pengadilan, sedangkan kreditur entitas baru, H-Pay, dapat mengajukan klaim langsung kepada likuidator.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono

Dana Korban Scam Rp614 Miliar Berhasil Diselamatkan dari Penipuan Digital

OJK selamatkan dana korban scam Rp614,3 miliar dan blokir ratusan ribu rekening. Pengawasan diperketat untuk lindungi masyarakat dari kejahatan finansial digital.

img_title

VIVA.co.id

5 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |