Jakarta, VIVA – Kebiasaan memesan minuman dan camilan bersama di kantor menjelang jam pulang dikenal "afternoon tea culture” atau budaya jajan sore kantor. Kebiasaan sederhana yang dulu dianggap sebagai cara sederhana untuk mempererat hubungan antarkaryawan tanpa disadari menjadi jebakan finansial bagi banyak pekerja muda.
Sebagian karyawan rela menguras penghasilan bulanan demi menjaga hubungan sosial di lingkungan kerja. Tekanan finansial ini dialami beberapa pekerja muda di Vietnam yang mengeluhkan gaji bulanan ludes untuk mengikuti budaya jajanan camilan dan kopi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Mengutip Vnexpress, salah satunya Bao Trang, mahasiswa magang berusia 22 tahun di sebuah perusahaan desain di Ho Chi Minh City, Vietnam, mengaku menghadapi dilema akibat budaya tersebut. Pada awal bekerja, rekan-rekannya masih mentraktir minuman tetapi setelah itu ia harus ikut membayar sendiri dengan pengeluaran sekitar 60.000-70.000 dong Vietnam atau setara Rp38 ribu-Rp45 ribu per hari.
Alhasil, hampir seluruh uang magangnya yang hanya sekitar 3 juta dong Vietnam per bulan habis untuk makan dan minum bersama rekan kerja. Ironisnya, Trang tetap ikut karena takut dicap tidak ramah dan dikucilkan dari lingkungan kantor.
Ilustrasi jajan di jalanan.
Fenomena ini rupanya bukan kasus tunggal. Banyak pekerja baru mulai mengeluhkan budaya jajan bersama yang awalnya dianggap sebagai aktivitas bonding sederhana, tetapi kini berubah menjadi tekanan sosial yang sulit ditolak.
Sebuah video di media sosial yang membahas tekanan budaya “afternoon tea” baru-baru ini viral memicu puluhan ribu komentar. Di platform Threads, diskusi soal “tekanan patungan jajan kantor” juga menarik hampir 100 ribu interaksi, menandakan keresahan ini semakin luas dirasakan pekerja muda.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Laporan Social Culture Report 2025 bahkan menemukan lebih dari sepertiga pekerja global merasa tidak nyaman dengan tekanan untuk mengikuti kegiatan sosial kantor. Generasi Z menjadi kelompok yang paling tinggi mengalami stres terkait hal tersebut.
Sementara itu, Tu Hao, pekerja berusia 35 tahun di Hanoi, sempat menghindari acara kumpul karena sedang menjalani pola makan ketat. Setelah menjelaskan kondisi tersebut kepada rekan-rekannya, mereka justru mulai memilih menu yang lebih sehat agar ia tetap bisa bergabung.
Halaman Selanjutnya
HR Manager sebuah perusahaan media di Ho Chi Minh City, Tran Tuyet, menilai perusahaan perlu mengambil peran aktif untuk mengurangi tekanan sosial semacam ini. Dengan mayoritas karyawan adalah generasi Z (gen Z) berusia 20-25 tahun, perusahaan tempatnya bekerja menyediakan area pantry bersama untuk menyiapkan camilan ringan.

2 days ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)