Kamis, 7 Mei 2026 - 12:40 WIB
VIVA – Pemerintah China menyatakan kunjungan pemimpin Taiwan Lai Ching-te ke Eswatini, negara di Afrika, sebagai tindakan "menyelinap" dan tidak menghormati kedaulatan negara yang dilaluinya.
"Lai Ching-te menyelinap ke pesawat asing dan menipu dirinya sendiri untuk masuk ke Eswatini dengan menyembunyikan informasi penumpang dari negara tersebut. Pada penerbangan pulangnya, setelah penggunaan wilayah udara ditolak oleh negara-negara terkait, Lai kembali menyelinap ke pesawat dan memaksa masuk melalui wilayah udara negara-negara tersebut," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Rabu, 6 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pemimpin Taiwan Lai Ching-te mengunjungi Eswatini, satu-satunya negara di Afrika yang mengakui Taiwan, pada 2-4 Mei 2026. Perjalanan Lai itu awalnya dijadwalkan pada 22-26 April untuk menandai peringatan 40 tahun kenaikan takhta Raja Mswati III dari Eswatini.
Bulan lalu, Taiwan mengatakan China telah memaksa tiga negara Samudra Hindia untuk mencabut izin penerbangan bagi pesawat Lai untuk melakukan perjalanan ke kerajaan kecil di Afrika selatan, Eswatini, Perjalanan tersebut akhirnya ditangguhkan setelah Taiwan mengatakan bahwa Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar secara sepihak mencabut izin terbang pesawat Lai untuk melintasi wilayah udara mereka.
Lai akhirnya terbang langsung dari Taipei ke Eswatini menggunakan jet pribadi Raja Mswati III, sebuah Airbus A340-313. Pesawat tersebut telah mendarat di Taiwan sejak awal pekan lalu karena membawa Wakil Perdana Menteri Thulisile Dladla untuk bertemu Lai.
"Seluruh kejadian itu menunjukkan kepada dunia betapa sedikitnya Lai menghormati wilayah udara dan kedaulatan negara-negara terkait dan peduli terhadap opini dunia. Apa yang dilakukannya sangat berbahaya dan keterlaluan," tambah Lin Jian.
Fakta bahwa Lai menyelundupkan diri masuk dan keluar negeri, kata Lin Jian, menunjukkan dengan jelas bahwa separatisme "kemerdekaan Taiwan" hanyalah bisnis yang mencurigakan dan tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.
"Tindakannya tidak lain hanyalah aksi yang memalukan," ungkap Lin Jian.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Beberapa politisi di Eswatini, menurut Lin Jian, dibayar oleh Taiwan dan secara keliru memberikan ruang bagi "kemerdekaan Taiwan."
"China sangat mengutuknya. Para politisi di negara-negara itu perlu mengambil keputusan bijak dan berhenti melangkah lebih jauh di jalan yang sudah pasti salah," tambah Lin Jian.
Halaman Selanjutnya
Ia menegaskan, hanya ada satu China di dunia dan Taiwan adalah bagian yang tak terpisahkan dari wilayah China.

1 week ago
3











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)