Ubah Mindset Jadi Inovasi Nyata, Flip Catat Sudah Layani Transaksi Keuangan 16 Juta Pengguna di Indonesia

1 week ago 11

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:49 WIB

Jakarta, VIVA – Transformasi digital Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh teknologi, tetapi harus dimulai dari perubahan cara berpikir. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 yang mengusung tema Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital.

Gelaran ini merupakan inisiatif nasional yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama OJK, industri, dan berbagai mitra strategis untuk mendukung transformasi ekonomi dan keuangan digital di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rafi Putra Arriyan, Co-Founder Flip membagikan perjalanan Flip dalam sesi 'Turning Mindset into Real-World Innovation'. Ia menekankan bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari ide besar, tetapi dari pemahaman mendalam terhadap masalah yang benar-benar dirasakan pengguna.

“Flip dimulai dengan memberikan solusi inovatif dari satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Namun seiring kami semakin memahami kebutuhan pengguna, inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Dengan begitu, kita bisa menemukan berbagai masalah lain yang berkaitan dengan cara mereka berbelanja hingga menabung,” ujar Rafi dikutip dari keterangannya, Kamis, 7 Mei 2026.

Berawal dari solusi sederhana untuk menghilangkan biaya transfer antar bank, Flip terus berkembang dengan mengikuti kebutuhan pengguna yang semakin kompleks, mulai dari pembayaran berbagai kebutuhan, transfer ke luar negeri, hingga fitur yang terintegrasi dengan ekosistem digital di Indonesia.

Saat ini, Flip telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di Indonesia. Pertumbuhan ini mencerminkan semakin luasnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang praktis dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rafi juga menyoroti bahwa banyak inovasi gagal karena hanya menarik secara konsep, tetapi tidak relevan dengan kebutuhan nyata pasar. Pengalaman awal Flip menunjukkan bahwa memahami “pain point” pengguna jauh lebih penting dibanding sekadar membangun solusi yang terlihat canggih.

Start small mindset. Dulu kami pikir inovasi berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ternyata, inovasi yang paling sulit adalah memberikan solusi yang tetap relevan terhadap masalah yang terus berubah. Bagi kami inovasi membutuhkan keberanian, kerendahan hati, kolaborasi, dan kesabaran,” tutup Rafi.

Halaman Selanjutnya

Dalam kesempatan itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa melalui inisiatif ini, BI membekali talenta digital muda dengan kompetensi teknis di bidang inovasi digital dan kewirausahaan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |