153 Juta Pemain Jadi Modal Lompatan Digital Indonesia, RMIT Dorong Industri Game Naik Kelas

5 days ago 4

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:15 WIB

VIVA – Indonesia memiliki sekitar 153 juta pemain game dan nilai pasar yang diperkirakan mencapai US$1,9 miliar. 

Skala tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar game utama, tetapi juga berkembang sebagai pencipta game orisinal berdaya saing global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

RMIT University Australia menyoroti pentingnya menghubungkan besarnya pasar game Indonesia dengan talenta siap industri, kemampuan komersial, dan jaringan internasional.

Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, mempertemukan RMIT dengan sejumlah pemangku kepentingan industri game Indonesia, termasuk Agate, salah satu pengembang game terkemuka di Indonesia, serta Asosiasi Game Indonesia (AGI).

Sejumlah tantangan masih membayangi pertumbuhan industri game nasional, mulai dari keterbatasan talenta tingkat lanjut, akses pendanaan, kemampuan komersial dan kepemimpinan bisnis, hingga akses ke pasar internasional. 

Para peserta menilai kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, institusi pendidikan, dan investor menjadi kunci untuk mempercepat perkembangan ekosistem game Indonesia.

“Indonesia telah memiliki pasar yang besar, talenta kreatif yang kuat, serta ekosistem pengembangan game yang terus bertumbuh,” kata Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 31 Juli 2026.

“Langkah berikutnya adalah memastikan para pengembang dan pendiri studio tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga kemampuan bisnis dan wawasan internasional untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan serta membawa kekayaan intelektual Indonesia kepada audiens global," sambungnya.

Pengembangan game kini membutuhkan kombinasi kompetensi yang semakin luas. 

Game mobile mendominasi pasar Indonesia, sementara banyak studio lokal lebih berfokus pada game premium untuk PC dan konsol yang menyasar pasar luar negeri. 

Kondisi ini membuka peluang untuk memperkuat pemahaman pasar, memperluas strategi produk, dan mengembangkan konten yang relevan bagi konsumen Indonesia.

RMIT sendiri telah mendukung pengembangan kemampuan digital dan kreatif di Indonesia melalui kolaborasi dengan pemerintah dan industri. Pada 2024 dan 2025, RMIT menjalin kemitraan dengan Ekraf dan Apple untuk menyelenggarakan pelatihan desain game digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada periode yang sama, RMIT juga memperluas kemitraannya dengan Infinite Learning melalui program pengembangan game, animasi, dan kewirausahaan. 

Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan pentingnya pembelajaran yang terhubung langsung dengan industri, dengan menggabungkan keterampilan teknis, kreativitas, wawasan komersial, dan pengalaman praktis.

Halaman Selanjutnya

“Kemampuan teknis tetap menjadi fondasi, tetapi tidak lagi cukup jika berdiri sendiri,” ujar Tantia. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |