20.000 Karyawan Meta dan Microsoft Kena PHK, AI Jadi Biang Kerok

2 hours ago 1

Senin, 27 April 2026 - 14:10 WIB

Jakarta, VIVA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang industri teknologi global. Dua raksasa teknologi, Meta Platforms dan Microsoft, dilaporkan memangkas lebih dari 20.000 pekerjaan di tengah percepatan investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa dampak AI terhadap tenaga kerja bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah terjadi saat ini. Hal ini lantaran perusahaan-perusahaan besar justru melakukan efisiensi tenaga kerja di saat yang sama ketika mereka meningkatkan belanja untuk infrastruktur AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meta disebut memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya, sementara Microsoft membuka program pengunduran diri sukarela untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan. Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam strategi tenaga kerja di sektor teknologi global.

Menurut analis, perubahan yang terjadi bukan sekadar penyesuaian bisnis jangka pendek, melainkan pergeseran struktural. “Ini merupakan pergeseran struktural yang fundamental, bukan koreksi pasar sementara,” kata Anthony Tuggle, executive coach dan pakar kepemimpinan, sebagaimana dikutip dari CNBC, Senin, 27 April 2026.

Ia menilai industri sedang memasuki fase baru di mana AI mulai mengubah cara kerja secara mendasar, bukan hanya membantu pekerjaan manusia tetapi juga menggantikan sebagian peran yang ada.

Tekanan di pasar tenaga kerja teknologi juga semakin nyata. Pada pekan ini, lebih dari 92.000 pekerja teknologi telah terkena PHK sepanjang 2026, menurut Layoffs.fyi, sehingga totalnya mendekati 900.000 sejak 2020.

Lonjakan PHK ini terjadi di tengah percepatan adopsi AI di berbagai perusahaan besar. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi, mengotomatisasi proses kerja, dan mengurangi kebutuhan tenaga manusia di beberapa sektor.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di perusahaan teknologi murni. Perusahaan global lain seperti Nike juga melakukan pengurangan tenaga kerja, terutama di divisi berbasis teknologi dan operasional digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini membuat kekhawatiran di pasar tenaga kerja semakin meningkat. Banyak pekerja memilih bertahan di posisi mereka karena takut sulit mendapatkan pekerjaan baru di tengah ketidakpastian industri.

“Karena pengunduran diri alami tidak terjadi sebanyak sebelumnya, perusahaan menjadi lebih agresif mendorong orang keluar,” ujar Daniel Zhao, ekonom utama Glassdoor.

Halaman Selanjutnya

Artinya, perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan rotasi alami tenaga kerja, tetapi mulai lebih aktif melakukan efisiensi melalui PHK maupun restrukturisasi internal.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |