Jumat, 3 April 2026 - 22:45 WIB
Jakarta, VIVA – Pemerintah Malaysia akan memperketat pengendalian energi di gedung-gedung pemerintah. Salah satunya menetapkan suhu pendingin ruangan (AC) tidak lebih rendah dari 24 derajat Celsius.
Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap krisis energi global. Wakil Perdana Menteri Malaysia, Fadillah Yusof, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya penghematan energi di tingkat nasional.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Sebagai respons proaktif terhadap krisis energi global, pemerintah akan melaksanakan beberapa langkah penghematan energi di tingkat nasional,” ujarnya dalam acara Global Energy Crisis Briefing, sebagaimana dikutip dari Malay Mail, Jumat, 3 April 2026.
Selain pengaturan suhu AC, pemerintah juga meminta aparatur sipil negara mengenakan pakaian yang lebih sesuai dengan iklim lokal, seperti batik, kemeja korporat, atau baju Melayu, guna mengurangi penggunaan pendingin ruangan secara berlebihan.
Fadillah menyebut kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk memimpin dalam penggunaan energi secara hemat.
Sebelumnya, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan penerapan kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) bagi sektor publik dan perusahaan terkait pemerintah mulai 15 April. Keputusan tersebut diambil dalam rapat kabinet untuk menekan konsumsi bahan bakar dan menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
Fadillah mengatakan Malaysia saat ini masih berada dalam kondisi stabil, namun tetap bersiap menghadapi dampak krisis energi global yang dipicu konflik di Asia Barat.
“Kami kini berada dalam fase yang menantang dalam lanskap ekonomi global. Krisis energi global yang sedang berlangsung, menyusul konflik di Asia Barat, telah berdampak langsung terhadap pasokan dan harga energi di seluruh dunia.”
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menambahkan bahwa gangguan pada jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz telah meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong kenaikan harga energi.
Menurutnya, sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Malaysia tidak terlepas dari dampak tersebut. “Kami harus tetap waspada dan mengambil langkah pencegahan jika krisis ini berlanjut,” ungkapnya.
Iran Tak Gentar Tutup Selat Hormuz, Analis Sebut Pemulihan Krisis Energi Belangsung Lama
Iran menutup Selat Hormuz, picu krisis energi global. Analis sebut pemulihan bisa 3–5 tahun, sementara konflik AS, Israel, dan Iran terus memicu lonjakan harga energi.
VIVA.co.id
3 April 2026

4 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522398/original/068585400_1772764301-anak_susah_makan.jpg)