Ahli Ungkap Efek Domino Harga Plastik Meroket Imbas Perang AS-Iran, Konsumen dan Industri Kena Getahnya!

2 weeks ago 9

Rabu, 8 April 2026 - 16:00 WIB

Jakarta, VIVA – Selain minyak mentah yang menjadi sorotan di tengah konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran, belakangan harga plastik turut menjadi perhatian hingga membuat geger pedagang di Tanah Air. Sejumlah ahli menjabarkan dampak mahalnya harga plastik berimbas terhadap pelaku industri hingga konsumen.

Data menunjukkan lebih dari 99 persen plastik global berasal dari bahan bakar fosil, terutama minyak mentah. Sejak perang dimulai, harga minyak mentah melonjak dari US$67 per barel menjadi lebih dari US$98 pada puncaknya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan demikian, kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi serta juga harga bahan baku seperti polyethylene (PE) dan polypropylene. Tidak heran, kenaikan harga minyak mentah lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026 menyebabkan biaya produksi plastik semakin mahal yang imbasnya kenaikan harga di kalangan konnsumen.  

Direktur polyethylene di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, menegaskan ketergantungan besar terhadap Selat Hormuz menjadi penyebab harga plastik melonjak. Faktor lainnya adalah ketergantungan global terhadap kawasan Timur Tengah sebagai pemasok utama bahan baku plastik dunia dengan kontribusi sekitar seperempat ekspor dunia.

“Sekitar 84 persen kapasitas polyethylene di Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut,” tutur Jacoby dikutip dari CNN Internasional, Rabu, 8 April 2026.

CEO Plastics Exchange, Michael Greenberg, bahkan menyebut lonjakan ini sebagai yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data Plastics Exchange menunjukkan harga resin plastik telah melonjak dua digit dalam 30 hari terakhir di hampir seluruh kategori manufaktur.

“Dalam 25 tahun saya di industri plastik, saya belum pernah melihat kenaikan bulanan polyethylene sebesar ini,” kata Greenberg.

Lebih lanjut, Profesor dari Syracuse University, Patrick Penfield, membeberkan peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, dan kantong sampah menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga. Menurutnya, harga produk-produk tersebut masih akan naik dalam beberapa minggu mendatang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penfield menambahkan, dampak harga plastik naik tidak berhenti hanya sekadar kenaikan sejumlah barang kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, plastik digunakan di hampir seluruh rantai pasok dari kemasan hingga manufaktur.

Sepakat dengan Penfield, Ekonom dari NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, menuturkan biaya kemasan juga diprediksi mendorong harga makanan dalam dua hingga empat bulan ke depan seiring produsen menghabiskan stok lama. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai fenomena yang membingungkan bagi konsumen.

Halaman Selanjutnya

“Ini salah satu kondisi di mana Anda hanya bisa menggelengkan kepala saat di toko. Anda tidak tahu apakah harga naik karena inflasi, kenaikan sewa, atau faktor lain, tapi Anda tetap harus membayar lebih,” kata Foudy.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |