Kamis, 9 April 2026 - 08:55 WIB
VIVA –Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa gencatan senjata atau negosiasi dengan Amerika Serikat akan tidak masuk akal mengingat pelanggaran serius yang dilakukan oleh pihak agresor, bahkan sebelum pembicaraan apa pun dimulai.
Mohammad-Baqer Qalibaf menyampaikan pernyataan ini melalui akun X pada Rabu, beberapa jam setelah rezim Israel melancarkan serangan dahsyat ke Lebanon yang menewaskan ratusan warga sipil.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebelumnya, pada Rabu kemarin, AS secara resmi menerima proposal 10 poin Iran sebagai dasar untuk gencatan senjata, menyetujui seluruh tuntutan inti yang diajukan Republik Islam.
Salah satu poin dalam proposal itu adalah penghentian serangan di semua front, termasuk di Lebanon.
Qalibaf mengatakan bahwa ketidakpercayaan Republik Islam terhadap Amerika Serikat sudah berlangsung lama, karena pelanggaran berulang terhadap semua bentuk komitmen oleh Washington.
Ia menyesalkan bahwa pola ini terulang lagi, dengan menyebut tiga pelanggaran yang terjadi tak lama setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu oleh Trump. Melansir laman presstv.ir, pelanggaran itu, menurut Qalibaf, meliputi rezim Israel yang menewaskan dan melukai ratusan orang di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone yang masuk dan penolakan terhadap hak Iran untuk memperkaya nuklir.
Qalibaf menambahkan, ketiga pelanggaran ini termasuk pelanggaran terhadap tiga klausul utama dari proposal 10 poin Iran yang disebut Trump sebagai dasar yang bisa dijadikan negosiasi dan kerangka utama pembicaraan.
Klausul yang dimaksud meliputi:
1. Gencatan senjata segera di semua wilayah, termasuk Lebanon dan kawasan lain.
2. Larangan pelanggaran lebih lanjut terhadap wilayah udara Republik Islam.
3. Klausul keenam yang menekankan hak nuklir Iran.
Kini, dasar yang bisa dijadikan negosiasi itu telah jelas dilanggar, bahkan sebelum negosiasi dimulai, tegas Qalibaf.
“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi adalah tidak masuk akal,” kata dia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
AS dan rezim Israel memulai gelombang agresi terbaru terhadap Republik Islam pada 28 Februari, menargetkan infrastruktur militer dan sipil Iran, serta menewaskan beberapa pejabat negara, termasuk Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Pengumuman Trump datang setelah Republik Islam membalas agresi tersebut dengan sedikitnya 99 gelombang serangan balasan yang menargetkan sasaran strategis dan sensitif Amerika dan Israel di seluruh wilayah.
Halaman Selanjutnya
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran kemudian menyebut ini sebagai kekalahan historis dan telak bagi lawan, menekankan bahwa Washington terpaksa menerima proposal Iran akibat balasan tersebut.

2 weeks ago
9



























