loading...
Rebo Wekasan dikenal dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim, khususnya di Jawa, sebagai waktu yang memiliki sejumlah amalan khusus, salah satunya adalah memperbanyak doa dan ibadah untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT. dari bala dan musibah. Fot
Benarkah adanya amalan Rebo Wekasan untuk menolak bala dan musibah? Bagaimana pandangan Islam tentang bala dan musibah ? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.
Istilah Rebo Wekasan atau Rabu terakhir pada bulan Safar dikenal dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim, khususnya di Jawa, sebagai waktu yang memiliki sejumlah amalan khusus. Salah satunya adalah memperbanyak doa dan ibadah untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT .
Ning Sheila Hasina Zamzami dari Pesantren Al-Baqoroh Lirboyo, Kediri, menjelaskan bahwa terdapat pandangan dari sejumlah wali Allah dan ulama yang menyebut pada setiap tahun Allah SWT menurunkan berbagai macam bala atau musibah ke bumi. Menurutnya, pandangan tersebut antara lain disebut dalam kitab Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail al-Azminah wash-Shuhur karya Abdul Hamid Quds. Dalam keterangan tersebut disebutkan bahwa bala dan musibah pertama kali terjadi pada Rabu terakhir bulan Safar yang kemudian dikenal dengan istilah Rebo Wekasan.
Pandangan tersebut kemudian berkembang di tengah masyarakat dan melahirkan sejumlah amalan yang dilakukan pada Rebo Wekasan.
Salah satu amalan yang disebut adalah salat sunah empat rakaat. Dalam setiap rakaat setelah membaca Surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Surah Al-Ikhlas lima kali, serta Surah Al-Falaq dan An-Naas masing-masing satu kali.
Baca juga: Rebo Wekasan 2026: Benarkah Rabu Terakhir Safar Menjadi Hari Paling Berat Sepanjang Tahun?
"Setelah salam membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun," kata Ning Sheila, sebagaimana dikutip dari keterangannya.
Selain salat sunah, terdapat pula amalan lain yang dikenal dalam tradisi Rebo Wekasan, yakni menulis tujuh ayat yang mengandung lafaz Salamun setelah salat Ashar.
Tujuh ayat tersebut adalah:








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295770/original/019030800_1783944385-20260713_094007.jpg)