BI Maksimalkan Operasi Moneter Respons Rupiah Melemah ke Rp17.000 per Dolar AS

2 weeks ago 13

Rabu, 8 April 2026 - 10:16 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah masih tetap anteng di posisi di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga pagi ini. Pelemahan terjadi sejak awal pekan ini terdorong dampak dali geopolitik global.

Merespons hal tersebut Bank Indonesia mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki serta kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas bagi Bank Indonesia,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip, Rabu, 8 April 2026.

Destry menjelaskan bahwa BI secara konsisten dan terukur selalu berada di pasar uang, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian, sehingga mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Selasa melemah 70 poin atau 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS. Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.092 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.

Dalam menghadapi ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah, sebelumnya BI juga menyatakan untuk melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah dengan menyesuaikan respons terhadap tiga skenario dampak perang yaitu jika harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah dan tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan upaya tersebut juga diperkuat dengan menjaga cadangan devisa dan respons kebijakan suku bunga. “Kami terus mengoptimalkan di moneter tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, Selasa (17/3).

Bank sentral memandang bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak perang Timur Tengah. Berbagai upaya untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran juga diharapkan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Rupiah Menguat di Tengah Seruan Pengetatan Subsidi BBM Imbas Lonjakan Harga Minyak

Hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.985 per dolar AS. Posisi itu menguat 120 poin atau 0,70 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS

img_title

VIVA.co.id

8 April 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |