Jakarta, VIVA – Selain minyak mentah yang menjadi sorotan di tengah konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran, belakangan harga plastik turut menjadi perhatian hingga membuat geger pedagang di Tanah Air.
Sejumlah ahli menjabarkan dampak mahalnya harga plastik berimbas terhadap pelaku industri hingga konsumen. Scroll lebih lanjut yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kenaikan harga bahan baku plastik yang berasal dari turunan minyak bumi membuat biaya produksi meningkat, sehingga berujung pada naiknya harga berbagai produk berbahan plastik, termasuk kemasan makanan sekali pakai.
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan plastik sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas rumah tangga. Beragam kebutuhan mulai dari penyimpanan bahan makanan, wadah bekal, hingga kemasan makanan siap saji sangat bergantung pada plastik. Salah satu yang paling umum digunakan adalah thinwall, yakni wadah plastik tipis yang bersifat sekali pakai (disposable), namun kerap digunakan kembali oleh masyarakat.
Kebiasaan ini umumnya dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi dan kepraktisan. Banyak orang memilih menyimpan dan menggunakan ulang wadah tersebut untuk menghemat pengeluaran. Padahal, penggunaan berulang tanpa memperhatikan kondisi fisik wadah dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Hal ini menjadi perhatian serius para ahli, yang menyoroti fenomena penggunaan ulang plastik disposable di masyarakat.
"Plastik-plastik, terutama kalau yang disposable, ibu-ibu biasanya kan suka kumpulin thinall. Sebetulnya itu boleh saja digunakan. Asalkan jangan sampai udah tergores atau kusam," kata Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA, Universitas Indonesia, Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc, dalam Diskusi bersama Ngobras, di Jakarta, Rabu 8 April 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penggunaan ulang wadah plastik tidak sepenuhnya dilarang, selama kondisi materialnya masih layak. Namun, Prof. Yuni mengingatkan bahwa perubahan fisik sekecil apa pun pada permukaan plastik dapat menjadi indikator penurunan kualitas bahan.
"Kalau sudah tergores atau kusam itu harus dibuang," kata Prof. Yuni.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menekankan bahwa goresan pada permukaan wadah bukan sekadar kerusakan visual, melainkan dapat menjadi celah bagi kontaminasi yang tidak terlihat secara kasat mata.
"Karena bisa jadi ada kotoran yang mengendap di bagian goresannya, atau microplastik yang tidak sengaja tercampur ke dalam makanan," jelas Prof. Yuni.
Halaman Selanjutnya
Lebih lanjut, secara ilmiah, kondisi tersebut berkaitan erat dengan struktur polimer plastik yang dapat mengalami degradasi akibat pemakaian berulang, paparan panas, serta gesekan. Ketika permukaan plastik mulai aus, partikel-partikel kecil dapat terlepas dan berpotensi tercampur ke dalam makanan, terutama jika digunakan untuk makanan panas atau berminyak.

2 weeks ago
8



























