Dikritik, Putra Netanyahu Diminta Diusir dari AS dan Didesak Ikut Perang Iran

3 weeks ago 8

Rabu, 1 April 2026 - 07:15 WIB

VIVA –Mantan kepala strategi Presiden AS Donald Trump, Steve Bannon, melontarkan pernyataan keras terhadap putra Perdana Menteri Israel, Yair Netanyahu, serta anggota keluarga kerajaan negara-negara Teluk. Bannon menilai mereka seharusnya ditempatkan di garis depan invasi Iran sebelum pasukan Amerika Serikat dikerahkan.

Yair yang berusia 34 tahun, diketahui telah menghabiskan waktu lama di luar Israel sejak 7 Oktober 2023, meskipun ia memenuhi syarat untuk bertugas di cadangan militer Israel. Menurut Ynet News, pada Februari lalu Yair tinggal di Miami bersama ibunya, Sara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Anak Netanyahu di Miami, usir besok juga. Mana Departemen Keamanan Dalam Negeri saat kita butuh mereka? Usir dia. Kembalikan ke sana. Pasang seragamnya. Biarkan dia jadi gelombang pertama,” kata Bannon dalam podcast War Room, merujuk pada Departemen Keamanan Dalam Negeri AS seperti dikutip dari laman Middle East Eye, Rabu 1 April 2026.

Pernyataan Bannon ini diposting secara online pada hari Senin, setelah Channel 12 Israel melaporkan bahwa Israel tidak akan mengirim pasukan ke Iran meski AS melancarkan invasi darat.

Israel diyakini telah melobi AS untuk menyerang Iran, bahkan Sekretaris Negara Marco Rubio mengatakan bahwa AS melancarkan serangan karena Israel berniat menyerang meski akan menempatkan pasukan Amerika dalam bahaya.

Negara-negara Teluk Arab, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, awalnya melobi Trump agar tidak menyerang Iran. Namun negara-negara ini menjadi sasaran ribuan serangan misil dan drone sebagai balasan Iran atas perang AS-Israel. Beberapa negara Teluk akhirnya bergerak mendukung serangan AS, yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Middle East Eye menjadi media pertama yang mengungkap bahwa Arab Saudi membuka Pangkalan Udara King Fahd untuk AS. Khususnya UEA secara terbuka mendorong balasan agresif AS atas penguasaan Selat Hormuz oleh Iran. Duta Besar UEA untuk AS, Yousef al-Otaiba, menolak “gencatan senjata sederhana” dengan Iran pekan lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

‘Keluar dari kasino dan rumah bordil di London’

Bannon mengatakan bahwa setiap negara Arab yang ingin invasi darat AS juga seharusnya mengirim pasukannya sendiri. Ia menyinggung para penguasa Teluk yang hidup mewah sementara pasukan AS bersiap untuk dikerahkan.

Halaman Selanjutnya

“Biarkan orang Arab ikut. Saya ingin orang Arab. Saya ingin UEA… MBZ, yang terbaik yang mereka punya di sana, dan dia punya tentara sungguhan… tidak terlalu besar, tapi mereka benar-benar tahu cara bertempur. Pulau Kharg, itu targetmu, ayo!” kata Bannon, merujuk pada Presiden UEA Mohamed bin Zayed.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |