Jakarta, VIVA – Konflik geopolitik di Timur Tengah menimbulkan efek domino ke berbagai sektor, termasuk industri penerbangan global. Ketegangan yang meningkat membuat sejumlah negara menutup wilayah udaranya, memicu pembatalan massal penerbangan dan gangguan perjalanan internasional.
Otoritas penerbangan sipil Bangladesh melaporkan bahwa total 1.060 penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Hazrat Shahjalal di Dhaka telah dibatalkan dalam kurun waktu 44 hari sejak 28 Februari 2026. Pembatalan ini terjadi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memanas dan berdampak pada keamanan kawasan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara di Timur Tengah menjadi pemicu utama gangguan ini. Negara-negara seperti Iran, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania menghentikan operasional penerbangan akibat situasi keamanan yang tidak stabil.
Akibatnya, konektivitas udara antara Dhaka dan sejumlah hub penting di Timur Tengah terganggu parah. Padahal, kawasan tersebut merupakan jalur vital bagi pekerja migran Bangladesh serta penumpang transit menuju berbagai negara tujuan.
Melansir dari The Daily Star, Selasa, 14 April 2026, data menunjukkan bahwa jumlah pembatalan penerbangan terus meningkat dari waktu ke waktu. Dalam 10 hari pertama sejak krisis dimulai, sebanyak 339 penerbangan dibatalkan. Angka ini kemudian bertambah dengan 275 pembatalan pada periode 10 hingga 19 Maret.
Selanjutnya, 226 penerbangan dibatalkan antara 20 hingga 29 Maret, disusul 160 pembatalan pada periode 30 Maret hingga 8 April. Dalam beberapa hari terakhir, tepatnya 9 hingga 12 April, tambahan 60 penerbangan kembali dibatalkan, sehingga total mencapai 1.060 penerbangan yang terdampak.
Kondisi ini mencerminkan eskalasi krisis yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Maskapai penerbangan pun menghadapi tantangan besar dalam mengatur ulang jadwal dan mencari rute alternatif, mengingat banyak jalur utama yang tidak dapat dilalui.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Situasi ini juga memperburuk pengalaman penumpang. Banyak di antara mereka yang terpaksa menunda perjalanan, kehilangan koneksi penerbangan lanjutan, hingga menghadapi ketidakpastian terkait jadwal keberangkatan baru.
Di sisi lain, penutupan wilayah udara di kawasan strategis turut meningkatkan tekanan terhadap sistem penerbangan global. Maskapai harus mengalihkan rute ke jalur yang lebih panjang, yang berarti peningkatan biaya bahan bakar dan waktu tempuh.
Halaman Selanjutnya
Selama situasi keamanan belum stabil, gangguan terhadap penerbangan diperkirakan masih akan berlanjut. Hal ini membuat pemulihan konektivitas udara internasional menjadi tantangan besar dalam jangka pendek.

1 week ago
9



























