Efisiensi Anggaran MBG, Menu Murah & Bergizi Berbahan Pangan Lokal Bisa Jadi Opsi

4 hours ago 6

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menghitung ulang kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026, sebagai langkah efisiensi dari alokasi sebelumnya yang sebesar Rp 268 triliun.

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari mengatakan, saat ini proses penghitungan masih berjalan, bersamaan dengan pembenahan data penerima manfaat, tata kelola program, dan skema insentif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kalau angka sementara ini mungkin saya belum bisa sebutkan, tapi yang jelas sudah tidak Rp 268 triliun, sudah jauh berkurang,” kata Agustina dalam keterangannya, Jumat, 7 Agustus 2026.

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari

Salah satu komponen yang dievaluasi adalah pemberian insentif SPPG sebesar Rp 6 juta per hari dengan nominal yang sama. Menurut Agustina, skema tersebut belum mencerminkan perbedaan kapasitas layanan, jumlah penerima manfaat, dan beban operasional masing-masing SPPG.

“Ada yang cakupannya lebih besar, kok disamaratakan Rp6 juta? Kan enggak fair. Nah, itu skema-skema yang akan kami perbaiki,” ujarnya.

Dengan demikian, efisiensi tidak hanya dimaknai sebagai pengurangan anggaran, tetapi juga sebagai penataan belanja agar lebih proporsional, tepat sasaran, dan adil bagi setiap SPPG.

"Penyesuaian pada biaya operasional juga perlu dipisahkan dari anggaran bahan pangan agar tidak mengurangi kualitas gizi penerima manfaat," ujarnya.

Di tengah pembenahan tersebut, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Hardinsyah, menawarkan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai salah satu cara menjaga kualitas menu MBG dengan biaya terjangkau.

Menurutnya, makanan bergizi tidak selalu membutuhkan bahan pangan mahal. Dengan komposisi dan pengadaan yang dikelola secara cermat, biaya bahan baku untuk satu porsi makanan anak sekolah dapat ditekan hingga sekitar Rp 7.000.

“Kalau anak-anak itu 75 gram beras. Kalau harga beras Rp 15.000 sekilo, 100 gram cuma Rp 1.500. Kemudian kalau pakai telur, katakan Rp 2.000 satu butir,” kata Prof. Hardinsyah.

Namun, Dia mengingatkan bahwa angka tersebut baru mencakup bahan pangan. Pelaksanaan MBG tetap membutuhkan biaya untuk bumbu, minyak, tenaga kerja, peralatan, pengelolaan dapur, dan distribusi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Biaya yang mahal itu biasanya peralatan dan operasional tempatnya,” ujarnya.

Prof. Hardinsyah menilai, penggunaan bahan pangan lokal dapat menjadi salah satu kunci efisiensi MBG. Setiap daerah memiliki pilihan sumber protein, sayuran, dan buah-buahan, yang dapat digunakan tanpa bergantung pada produk impor.

Halaman Selanjutnya

“Banyak sekali sayuran hijau di daerah. Tidak hanya bayam, kangkung, sawi, dan kol, tetapi banyak jenisnya, tergantung daerah,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |