Kamis, 9 April 2026 - 06:20 WIB
VIVA –Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Rabu membantah laporan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah dimulainya gencatan senjata yang masih rapuh dengan Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan bahwa upaya apa pun dari Iran untuk menghentikan lalu lintas laut akan dianggap sepenuhnya tidak dapat diterima.
Leavitt menyampaikan hal ini kepada para wartawan tak lama setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa selat tersebut ditutup sebagai respons atas serangan Israel terhadap kelompok militan Hezbollah di Lebanon, demikian seperti dikutip dari laman The Times, Kamis 9 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dengan nada penuh kemenangan, Leavitt memuji gencatan senjata itu sebagai kemenangan bagi Amerika Serikat dan berbicara seolah-olah operasi militer AS di Iran telah selesai. Padahal, Iran belum menyetujui untuk menghentikan pengembangan rudal balistik atau dukungan terhadap kelompok proksi, dan juga belum menghentikan rencananya mengembangkan senjata nuklir yang sebelumnya disebut sebagai target operasi militer oleh Donald Trump.
Leavitt juga menyampaikan bahwa tim negosiator AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, serta melibatkan menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff, akan bertemu dengan pejabat Iran di Islamabad, Pakistan, pada hari Sabtu. Iran sendiri telah merilis proposal gencatan senjata berisi 10 poin yang diklaim sebagai dasar pembicaraan dengan AS.
Namun, belum jelas apakah kedua pihak benar-benar menggunakan kerangka tersebut. Leavitt mengatakan bahwa AS sempat menolak proposal awal 10 poin dari Iran. Ia menambahkan bahwa Iran kemudian mengajukan proposal baru menjelang tenggat waktu yang dinilai lebih masuk akal dan sangat berbeda.
Menurutnya, Presiden Trump menganggap proposal yang telah direvisi itu sebagai dasar yang bisa dijadikan pijakan untuk bernegosiasi. Leavitt juga menekankan bahwa pernyataan Iran di depan publik sering kali berbeda dengan yang disampaikan kepada negosiator AS secara tertutup, sehingga kondisi sebenarnya dari proses negosiasi kemungkinan tidak sama dengan yang diketahui publik.
Pengumuman gencatan senjata disampaikan pada Selasa malam, tak lama sebelum batas waktu dari ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran jika para pemimpinnya tidak mencapai kesepakatan. Leavitt menyebut bahwa serangan udara AS dan ancaman tersebut menjadi faktor yang mendorong Iran menyetujui gencatan senjata.
Halaman Selanjutnya
Trump juga menuntut agar Iran membuka kembali selat tersebut untuk lalu lintas kapal. Bahkan, melalui akun media sosialnya, ia sempat mengusulkan agar AS dan Iran bersama-sama mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Dalam konferensi pers hari Rabu, Leavitt mengatakan bahwa ide itu hanya sebatas wacana, dan pada akhirnya Trump menginginkan jalur laut tersebut dibuka sepenuhnya tanpa pembatasan apa pun, termasuk tanpa pungutan biaya.

2 weeks ago
19



























