Jakarta, VIVA – Harga beras di Asia melonjak tajam dan mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir. Konflik Iran yang memicu lonjakan harga bahan bakar dan pupuk disebut menjadi salah satu penyebab utama, bahkan membuat sebagian petani di Thailand memilih menghentikan penanaman padi.
Beras putih Thailand dengan kadar patahan 5 persen, yang menjadi patokan harga beras Asia, naik 10 persen menjadi US$423 per ton atau sekitar Rp7,19 juta per ton (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS) pada pekan yang berakhir 8 April.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak Agustus 2023. Meski demikian, harga beras sebenarnya masih berada dalam tren penurunan panjang dan sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari satu dekade.
Lonjakan harga mulai mencerminkan dampak nyata dari meningkatnya biaya produksi pertanian, terutama akibat kenaikan harga energi dan pupuk setelah perang Iran memperburuk situasi global.
Analis komoditas senior Rabobank di Singapura, Oscar Tjakra, mengatakan sejumlah petani di Thailand mulai menunda atau bahkan menghentikan budidaya padi karena keuntungan yang didapat tidak lagi mampu menutup biaya operasional yang terus membengkak.
“Beberapa petani di Thailand telah menangguhkan budidaya padi karena keuntungan mereka tidak cukup untuk menutupi biaya yang terus membesar,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Economic Times, Selasa, 21 April 2026.
Menurut Tjakra, kondisi tersebut semakin diperparah oleh musim kemarau panjang yang menyebabkan hasil panen menurun secara signifikan dan memperketat pasokan dari panen saat ini.
“Situasi yang menantang ini diperburuk oleh musim kering yang panjang, yang secara signifikan mengurangi hasil panen dan memperketat pasokan dari hasil panen saat ini,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti penguatan mata uang baht Thailand serta naiknya biaya pengiriman dan asuransi akibat perang di Timur Tengah sebagai faktor tambahan yang mendorong harga beras semakin tinggi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tjakra mengatakan, penguatan baht dan biaya pengiriman serta asuransi yang lebih tinggi akibat perang di Timur Tengah turut berkontribusi pada lonjakan harga beras.
Thailand sendiri merupakan eksportir beras terbesar ketiga di dunia berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Posisi ini membuat perubahan produksi dan harga di negara tersebut sangat berpengaruh terhadap pasar beras global, termasuk Asia.
Halaman Selanjutnya
Saat ini, para petani di Thailand bersama petani di negara-negara Asia lainnya sedang mengumpulkan hasil panen musim kedua atau off-season crop, sekaligus bersiap memasuki musim tanam utama yang biasanya dimulai paling cepat pada Mei.

4 days ago
9



























