Jakarta, VIVA – Pasar global merespons cepat kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, namun pergerakan harga komoditas justru menunjukkan cerita yang lebih kompleks. Harga minyak langsung merosot tajam, sementara emas justru melonjak, mengindikasikan kekhawatiran investor belum sepenuhnya mereda.
Kesepakatan yang diumumkan oleh Donald Trump untuk menghentikan serangan terhadap Iran selama dua pekan dan membuka kembali Selat Hormuz langsung memicu perubahan besar di pasar. Harga minyak Brent turun hampir 6 persen, sementara minyak AS bahkan anjlok hingga 15 persen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penurunan ini mencerminkan ekspektasi bahwa pasokan energi global akan kembali normal dalam jangka pendek setelah jalur distribusi utama dibuka kembali. Namun, di saat yang sama, pasar aset lain justru bergerak ke arah berbeda.
Indeks saham global melonjak, dengan S&P 500 mendekati rekor tertinggi dan Bitcoin menembus level US$72.000 atau setara Rp1,22 miliar (kurs Rp17.000). Reli ini menunjukkan optimisme investor terhadap meredanya ketegangan geopolitik.
Namun, emas sebagai aset safe haven justru naik sekitar 4 persen ke level US$4.851 per ounce atau setara Rp82,46 juta. Perak bahkan melonjak lebih dari 6 persen ke sekitar US$76 atau Rp1,29 juta per ounce. Kenaikan ini terjadi di tengah euforia pasar saham dan penurunan harga minyak, menciptakan anomali yang menarik perhatian analis.
Kepala pasar modal Braiins, Baron Koch, menilai reaksi pasar ini menunjukkan pola berpikir jangka pendek investor. “Insight yang jarang dilaporkan di sini adalah bahwa preferensi waktu investor AS sekitar dua minggu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari NDTV, Rabu, 8 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu, analisis dari Kobelsi’s Letter menyebut reaksi pasar sebagai sangat mencolok, dengan saham yang cepat pulih mendekati level tertinggi meski volatilitas akibat perang belum sepenuhnya hilang. Disebutkan pula bahwa eksposur terhadap saham saat ini berada di level terendah sejak Mei 2025, menyisakan triliunan dolar dana yang masih di pinggir pasar yang siap masuk.
Namun, emas tampaknya mengirim sinyal berbeda dibandingkan aset lain. Analis Vinod Sreenivasan menyoroti ketidaksesuaian ini sebagai tanda kehati-hatian investor.
Halaman Selanjutnya
“Emas bergerak independen pada hari ketika semuanya bergerak bersama. Mengapa logam mulia tetap diminati saat pasar menganggap krisis sudah berakhir? Salah satu jawabannya adalah kelegaan. Jawaban lainnya adalah pasar belum sepenuhnya yakin. Logam mulia tidak naik seperti ini saat krisis berakhir. Mereka naik saat orang tidak yakin krisis itu benar-benar selesai. Dua minggu adalah hitungan mundur, bukan solusi. Perhatikan fakta, bukan pernyataan,” ungkapnya.

2 weeks ago
9



























