Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia melonjak tajam sementara pasar saham global melemah usai Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato terkait konflik Iran dalam siaran langsung dari Gedung Putih. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi dan keuangan global.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa tujuan utama Amerika Serikat dalam konflik tersebut hampir tercapai. Ia juga mendorong negara-negara lain yang bergantung pada minyak Timur Tengah untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga jalur distribusi energi utama tetap terbuka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selat Hormuz menjadi sorotan utama dalam konflik ini. Jalur sempit tersebut merupakan salah satu rute pengiriman energi paling penting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan energi global biasanya melewati kawasan ini. Namun, sejak konflik meningkat akibat serangan balasan Iran terhadap AS dan Israel, jalur ini praktis tertutup karena ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas.
Melansir dari BBC, Kamis, 2 April 2026, sebelum pidato Trump, harga minyak acuan Brent berada di kisaran US$100 per barel atau setara Rp1.700.000. Setelah pidato tersebut, harga melonjak 4,8 persen menjadi US$106,02 atau sekitar Rp1.802.340 per barel.
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate juga naik 4 persen menjadi sekitar US$104 atau setara Rp1.768.000 per barel. Kenaikan harga ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang cukup drastis. Alberto Bellorin dari InterCapital Energy menyatakan bahwa lonjakan tersebut merupakan respons nyata pasar setelah sebelumnya optimistis terhadap kemungkinan gencatan senjata dalam waktu dekat.
Ia menambahkan bahwa pidato Trump tidak memberikan kejelasan waktu terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurut Bellorin, kondisi ini membuat harapan pemulihan pasokan energi global dalam waktu singkat menjadi sirna. Ia memperkirakan situasi normal baru akan tercapai dalam hitungan bulan, bukan minggu seperti yang sebelumnya diharapkan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Tina Soliman-Hunter dari Macquarie University. Ia menilai bahwa sinyal dari Trump menunjukkan konflik kemungkinan akan berlanjut, sehingga investor memperkirakan pasokan minyak akan tetap terbatas dalam waktu dekat.
Dampaknya langsung terasa di pasar saham Asia. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,9 persen, sementara Kospi di Korea Selatan merosot hingga 3,5 persen. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga melemah sekitar 1 persen. Penurunan ini membalikkan penguatan yang sempat terjadi sebelum pidato Trump.
Halaman Selanjutnya
Kawasan Asia memang menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap gejolak ini, mengingat ketergantungannya yang tinggi terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Ketidakpastian distribusi minyak membuat investor cenderung menghindari risiko dan menarik dana dari pasar saham.

3 weeks ago
6



























