Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia jatuh tajam setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu yang juga mencakup pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Melansir dari BBC, Rabu, 8 April 2026, minyak acuan global Brent crude tercatat turun sekitar 13 persen ke level US$94,80 atau setara Rp1.611.600 per barel (kurs Rp17.000). Sementara itu, harga minyak yang diperdagangkan di Amerika Serikat merosot lebih dari 15 persen menjadi US$95,75 atau sekitar Rp1.627.750 per barel.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga energi melonjak tajam akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. Konflik yang dimulai pada 28 Februari sempat mendorong harga minyak jauh di atas level normal, dari kisaran US$70 atau sekitar Rp1.190.000 per barel.
Gencatan senjata ini pada dasarnya terjadi setelah Amerika Serikat menyatakan akan menghentikan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Teheran membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman. Iran kemudian merespons dengan menyatakan kesediaannya menghentikan konflik jika serangan terhadap wilayahnya dihentikan, sekaligus membuka jalur pelayaran di selat tersebut.
Kesepakatan ini langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sebagian besar pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berdampak besar terhadap harga energi.
Sebelumnya, Iran mengancam akan menyerang kapal yang melintasi selat tersebut sebagai balasan atas serangan udara dari AS dan Israel. Ancaman ini membuat banyak kapal tanker tertahan dan memicu lonjakan harga minyak serta gas secara global.
Meski demikian, analis menilai penurunan harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kondisi. Harga minyak masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik terjadi, menandakan pasar masih menyimpan kekhawatiran terhadap stabilitas jangka panjang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Risiko juga datang dari kemungkinan kerusakan infrastruktur energi di kawasan tersebut. Serangan yang terjadi selama konflik telah menargetkan berbagai fasilitas minyak dan industri di wilayah kaya energi itu.
Bahkan, perbaikan infrastruktur diperkirakan membutuhkan waktu lama dan biaya besar. Rystad Energy memperkirakan total biaya pemulihan bisa melampaui US$25 miliar atau sekitar Rp425 triliun, dengan waktu perbaikan yang dapat memakan hingga beberapa tahun.
Halaman Selanjutnya
Gangguan sebelumnya juga sempat menghantam fasilitas penting, termasuk pusat industri Ras Laffan di Qatar yang memproduksi sekitar seperlima gas alam cair dunia. Serangan di lokasi tersebut dilaporkan memangkas kapasitas ekspor negara hingga 17 persen dan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk pemulihan penuh.

2 weeks ago
8



























