Harga Minyak Dunia Turun Tipis ke US$97, Sinyal Damai AS-Iran Jadi Pemicu

1 week ago 8

Selasa, 14 April 2026 - 12:00 WIB

Jakarta, VIVA Harga minyak dunia yang sebelumnya melonjak tajam kini mulai menunjukkan tanda penurunan. Perubahan arah ini terjadi di tengah munculnya harapan baru terkait kemungkinan dialog antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan konflik yang selama ini mengguncang pasar energi global.

Situasi ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar setelah sebelumnya harga energi terus meroket akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan. Namun, meski harga mulai turun, ketidakpastian masih membayangi karena konflik belum sepenuhnya mereda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam perdagangan awal di pasar Asia, harga minyak mentah jenis Brent tercatat turun sebesar US$1,86 atau 1,87 persen menjadi US$97,50 per barel, setara sekitar Rp1,657 juta. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah US$2,25 atau 2,27 persen ke level US$96,83 per barel, atau sekitar Rp1,646 juta.

Penurunan ini terjadi setelah muncul sinyal bahwa dialog antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka, meskipun sebelumnya pembicaraan damai sempat menemui jalan buntu. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahkan menegaskan bahwa upaya meredakan ketegangan masih terus dilakukan.

“Meskipun pembicaraan damai di Pakistan mengalami kebuntuan pada akhir pekan, Trump berhasil sedikit meredakan kenaikan harga minyak dengan kembali memberikan harapan akan kemungkinan tercapainya kesepakatan,” kata Analis pasar dari KCM Trade, Tim Waterer, sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 14 April 2026.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan, yang semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi deeskalasi konflik.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak signifikan setelah militer AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Bahkan, harga Brent sempat naik lebih dari 4 persen dan WTI hampir 3 persen dalam satu sesi perdagangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Blokade tersebut juga diperluas hingga mencakup Teluk Oman dan Laut Arab, memperparah kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, menjadi titik krusial dalam krisis ini.

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa sejumlah kapal memilih berbalik arah saat blokade mulai diberlakukan. Selain itu, Iran juga mengancam akan menargetkan pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk sebagai respons atas langkah tersebut.

Halaman Selanjutnya

Menurut analis ANZ, sekitar 10 juta barel per hari pasokan minyak global telah terdampak oleh situasi ini. Bahkan, jika blokade berlangsung lebih lama, tambahan 3 hingga 4 juta barel per hari berpotensi ikut terhambat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |