Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 8 persen. Di tengah tekanan global dan transisi menuju ekonomi hijau (green economic), energi dinilai menjadi kunci baru yang mampu mendorong laju ekonomi nasional.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menegaskan, transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan strategi ekonomi jangka panjang. Menurut Hashim, Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan yang bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Indonesia siap memimpin dengan menekan emisi menuju nol pada 2060. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga penciptaan lapangan kerja dan penguatan swasembada energi sebagai penggerak ekonomi hingga 8 persen per tahun,” ucap Hashim dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 20 April 2026.
Untuk mendukung transformasi ini, kata Hashim, pemerintah tengah merancang pembangunan infrastruktur energi bersih dalam skala besar, termasuk jaringan transmisi pintar sepanjang 70.000 kilometer. Infrastruktur ini ditujukan untuk memastikan distribusi energi terbarukan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara merata.
![]()
“Komitmen global harus diikuti aksi nyata melalui pendanaan hijau yang tepat sasaran. Ini momentum untuk menjaga bumi demi generasi mendatang,” ujarnya.
Selain sektor energi, Seminar Pemuda yang digelar oleh Persaudaraan Warga Gereja Sumatera Utara (PWGSU) di Aula Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan RI di Jakarta pada Sabtu, 18 April 2026 menyoroti pengaruh berbagai sektor untuk mencapai target ekonomi 8 persen. Mulai dari pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga integritas dalam menghadapi disrupsi teknologi.
Mantan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, menekankan penguasaan teknologi harus dibarengi karakter yang kuat. Yasonna mengatakan, karakter unggul ditentukan oleh kecerdasan, energi kerja, dan terutama integritas.
"Tanpa integritas, potensi besar justru bisa merusak masyarakat,” tutur Yasonna.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Senada dengan itu, Staf Khusus Menko Perekonomian Raden Pardede melihat transformasi sektor pangan melalui digitalisasi turut mendukung keberhasilan mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai modernisasi pertanian menjadi prasyarat utama untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
“Indonesia Emas 2045 sulit tercapai jika petani tetap tradisional. Teknologi harus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka,” lanjut Raden Pardede.
Halaman Selanjutnya
Dari sisi pembangunan jangka panjang, Senior Advisor ADB Edimon Ginting mengingatkan pentingnya pengembangan SDM sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. “Negara maju lahir dari generasi muda yang maju. Tingkatkan produktivitas dan ubah tantangan global menjadi peluang,” jelasnya.

5 days ago
9



























