VIVA – Mantan pelatih Timnas Indonesia, Jacksen F Tiago, menyoroti insiden tendangan “kungfu” yang dilakukan pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 melawan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, Minggu 19 April 2026.
Insiden tersebut terjadi pada menit ke-81 setelah wasit mengesahkan gol kedua Dewa United melalui Abu Thalib yang sempat diprotes kubu Bhayangkara FC karena dianggap offside. Ketegangan di lapangan kemudian meningkat hingga terjadi keributan yang melibatkan pemain dan ofisial tim.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam situasi tersebut, Fadly Alberto terekam melakukan tendangan ke arah punggung pemain Dewa United, Rakha Nurkholis. Aksi itu viral di media sosial dan menuai sorotan luas karena dinilai tidak mencerminkan sportivitas dalam olahraga.
Tendangan Kungfu Fadly Alberto di pertandingan Elite Pro Academy
Menanggapi kejadian tersebut, Jacksen F Tiago mengajak publik untuk melihat insiden ini secara lebih luas sebagai bahan refleksi bersama, bukan sekadar fokus pada sanksi terhadap individu yang terlibat.
Jacksen menekankan bahwa aspek pengembangan manusia harus menjadi prioritas utama ke depan. Ia menilai pembinaan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga mencakup penguatan karakter, aspek psikologis, serta kemampuan komunikasi pemain.
“Sepak bola dimainkan oleh manusia. Kita tidak hanya membentuk pemain, tetapi juga membentuk pribadi,” ujar Jacksen melalui Instagram pribadinya, dikutip VIVA.co.id, Selasa 21 April 2026.
Ia juga mengusulkan adanya pendekatan yang lebih terarah dalam bidang psikologi olahraga melalui kerja sama dengan tenaga ahli atau institusi yang kompeten, guna mendukung perkembangan pemain secara menyeluruh.
Selain itu, Jacksen menyoroti tantangan yang muncul di era digital, khususnya terkait pengaruh media sosial terhadap pemain muda. Tanpa pendampingan yang tepat, ia menilai generasi muda berisiko kehilangan arah dalam pengembangan kariernya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Terkait desakan publik agar pelaku insiden dijatuhi hukuman berat, Jacksen menyatakan bahwa kejadian tersebut memang telah melampaui batas kewajaran dalam olahraga. Namun, ia menilai hukuman moral yang saat ini dihadapi pemain dan keluarganya sudah cukup berat.
Ia mengajak semua pihak untuk tidak hanya berfokus pada sanksi, melainkan bersama-sama membangun sistem yang mampu menghasilkan individu yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, tujuan utama pembinaan sepak bola bukan sekadar meraih prestasi, tetapi juga membentuk karakter pemain. Ia berharap insiden ini dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sistem secara menyeluruh, bukan memicu perpecahan.

4 days ago
3



























