Iran Tak Gentar Tutup Selat Hormuz, Analis Sebut Pemulihan Krisis Energi Belangsung Lama

6 hours ago 1

Jumat, 3 April 2026 - 20:44 WIB

Jakarta, VIVA – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi sinyal serius krisis energi global yang kian dalam. Di tengah eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, para analis memperingatkan bahwa pemulihan pasokan energi tidak akan berlangsung cepat.

Sejumlah negara telah memberikan sinyal ketersediaan pasokan energi mulai menipis. Filipina menetapkan status Darurat Energi Nasional sejak 24 Maret 2026 lalu Australia juga mengalami kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga memangkas pajak hingga 50 persen selama tiga bulan mulai 1 April 2026

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Analis energi dari Center on Global Energy Policy, Anne-Sophie Corbeau, menegaskan kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk akan berdampak panjang terhadap distribusi global. Ia membeberkan, proses perbaikan akibat perang diperkirakan akan memakan waktu lama.

“Pemulihan infrastruktur bisa memakan waktu antara tiga hingga lima tahun,” kata Corbeau dikutip dari BBC, Jumat, 3 April 2026.

Tak hanya itu, Corbeau juga menyoroti lonjakan biaya logistik akibat terganggunya jalur distribusi energi. Kapal-kapal yang masih melintas di Selat Hormuz kini dikenakan biaya tinggi.

“Saat ini kapal dikenakan biaya sekitar US$2 juta untuk melintas,” katanya.

Pendiri InterCapital Energy, Alberto Bellorin, menilai lonjakan harga energi saat ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap konflik yang belum menunjukkan tanda mereda. Ia menilai pidato Trump tidak memberikan kejelasan terkait kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka.

“Normalisasi kondisi kini terlihat akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan hitungan minggu,” ujarnya.

Minyak mentah Brent tercatat naik US$6,33 atau 6,3 persen atau sekitar Rp 107 ribu ke level US$107,49 atau Rp 1,82 juta per barel. Sementara itu, minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak US$5,28 atau 5,3 persen menjadi US$105,40 per barel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penutupan Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan sebagian besar minyak dunia—telah mengganggu rantai pasok global secara signifikan. Kondisi ini memperbesar risiko krisis energi yang dapat berdampak luas terhadap ekonomi dunia, mulai dari lonjakan harga energi hingga tekanan inflasi.

Di tengah situasi yang semakin kompleks, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tetap menunjukkan optimisme bahwa distribusi energi akan kembali normal setelah konflik berakhir. “Ketika konflik ini selesai, selat itu akan terbuka dengan sendirinya,” kata Trump.

Halaman Selanjutnya

Dengan konflik yang masih berlanjut dan ketidakpastian geopolitik yang tinggi, pasar energi global diperkirakan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat. Ancaman krisis energi pun kian nyata seiring belum adanya solusi konkret untuk menghentikan perang yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |