Isi Surat Wasiat dr. Icha Sebelum Meninggal, Akui Ingin Berkorban untuk Rekan Sejawat

6 hours ago 1

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:19 WIB

Kefamenanu, VIVA – Kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dr. Icha terus menyita perhatian masyarakat. Dokter berusia 28 tahun yang bertugas di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, pada Jumat 26 Juni 2026 sekitar pukul 17.50 Wita.

Peristiwa tersebut tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memunculkan dugaan bahwa almarhumah mengalami tekanan psikologis berat sebelum mengembuskan napas terakhir. Dugaan itu menguat setelah keluarga mengungkap adanya surat wasiat yang ditulis tangan oleh dr. Icha.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat olah tempat kejadian perkara dilakukan, polisi menemukan seutas tali nilon berwarna biru sepanjang kurang lebih dua meter dan sepucuk surat yang diduga merupakan pesan terakhir korban. Surat tersebut kini diamankan penyidik sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan.

Paman korban, Fabianus Banase, mengatakan keluarga belum mengetahui isi lengkap surat tersebut karena langsung disita aparat kepolisian bersama dua unit telepon genggam milik almarhumah.

"Kami datang terlambat, karena kejadian tadi almarhumah sendiri dan ada temukan dua handphone dan satu surat. Semacam surat wasiat yang ia tulis dan surat itu ada di kepolisian," ujar Fabianus, dikutip Minggu 28 Juni 2026.

Meski isi surat wasiat masih belum dipublikasikan, keluarga mengaku mengingat sejumlah ucapan yang pernah disampaikan dr. Icha semasa hidupnya. Salah satunya berkaitan dengan keinginannya melindungi sesama tenaga kesehatan dari tekanan yang pernah ia alami.

Fabianus menuturkan, keponakannya sempat mengungkapkan kesediaannya untuk menjadi pengorbanan agar kejadian serupa tidak kembali menimpa dokter maupun tenaga medis lainnya.

"Almarhumah pernah menyampaikan bahwa dirinya rela mengorbankan diri agar rekan-rekan sejawatnya tidak mengalami perlakuan serupa (intimidasi)," kata Fabianus.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian publik karena diduga berkaitan dengan tekanan psikologis yang dialami dr. Icha beberapa waktu sebelum meninggal dunia.

Menurut keluarga, trauma yang dialami dr. Icha berawal dari sebuah insiden saat dirinya sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu. Saat itu, ia menangani seorang pasien anak korban gigitan ular sesuai prosedur medis dan arahan dokter spesialis.

Halaman Selanjutnya

Namun, situasi berubah ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pihak rumah sakit belum direkomendasikan secara medis serta tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. Perbedaan pandangan itu kemudian memicu ketegangan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |