Denny JA: Macron dan Prabowo, Dua Pemain Geopolitik yang Hebat

2 hours ago 1

Jumat, 29 Mei 2026 - 21:21 WIB

Jakarta, VIVA - Hubungan yang semakin erat antara Indonesia dan Prancis bukan sekadar kisah dua negara yang memperkuat kerja sama bilateral. Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh rivalitas kekuatan besar, kemitraan ini membawa makna yang lebih dalam.

Hal ini diungkap Denny JA, yang menghadiri jamuan kenegaraan di Istana Élysée, Paris, pada 28 Mei 2026. Menurut Denny JA, semakin intensnya hubungan Indonesia dan Prancis berpotensi menjadi model baru bagi negara-negara menengah yang ingin tetap berdaulat tanpa harus menjadi satelit kekuatan mana pun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Dunia sedang memasuki era baru. Banyak negara tidak ingin memilih menjadi perpanjangan tangan Washington ataupun Beijing. Mereka ingin berdiri dengan kaki sendiri, menjalin kerja sama dengan siapa pun yang menguntungkan rakyatnya. Indonesia dan Prancis sedang menunjukkan jalan itu,” ujar Denny JA dalam keterangan tertulisnya, Jumat 29 Mei 2026.

Denny JA hadir dalam kapasitasnya sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, mengingatkan sektor energi menjadi salah satu pilar utama kerja sama kedua negara. Dalam kesempatan tersebut, ia juga berkesempatan bersalaman secara resmi, dan small talks, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Bagi Denny JA, hubungan Indonesia-Prancis hari ini lebih dari sekadar kontrak ekonomi atau diplomasi biasa. Ia adalah simbol lahirnya jaringan baru negara-negara menengah yang percaya pada multilateralisme, kemandirian, dan kemampuan menentukan nasib sendiri.

"Sejarah dunia sering ditulis oleh negara-negara adidaya. Namun abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai era ketika negara-negara menengah mulai menemukan keberanian untuk membentuk sejarahnya sendiri, tanpa harus tunduk pada siapa pun," katanya.

Emmanuel Macron: Pemimpin yang Menolak Jadi Pengikut

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lebih lanjut, Denny JA mengatakan sudah lama mendengar kehebatan Macron. Denny menjelaskan, Macron mencatat sejarah ketika memenangkan pemilu Prancis dengan menumbangkan dua partai besar yang selama puluhan tahun mendominasi politik Prancis. Ia membangun gerakannya sendiri dari hampir nol, lalu merebut Istana Élysée pada usia yang relatif muda.

Namun kehebatan Macron tidak berhenti di politik domestik. Di panggung dunia, kata Denny JA, Macron tampil sebagai salah satu sedikit pemimpin Barat yang berani berbicara tentang 'otonomi strategis Eropa'.

Halaman Selanjutnya

"Ia berkali-kali mengingatkan bahwa Eropa tidak boleh selamanya bergantung pada Amerika Serikat dalam urusan keamanan, teknologi, maupun ekonomi," katanya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |