Kementan: Butuh Riset 30 Tahun Modifikasi Kadar Nikotin Pada Tembakau

1 week ago 1

Senin, 27 Juli 2026 - 17:04 WIB

Jakarta, VIVA – Rencana pembatasan kadar nikotin dan TAR yang mendapat penolakan tegas dari petani tembakau, saat ini proses pembahasannya masih berlanjut pada tahapan perdebatan terkait dampak regulasi lintas sektor. Namun, Kementerian Pertanian yang bertanggungjawab mengurusi varites komoditas strategis tersebut tidak dilibatkan secara utuh.

“Kementerian Pertanian tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam pembahasan ini karena rancangan aturan ini berlandaskan pada mandat undang-undang Kesehatan (aspek hilir/konsumsi) bukan pada undang-undang pertanian (aspek hulu/produksi). Walaupun demikian Kementerian Pertanian tetap memberikan dukungan berupa data-data terkait komoditas tembakau yang diperluka,” ujar Yudi Wahyudi, Ketua Kelompok Tanaman Semusim, Direktorat Tanaman Semusim, Kementan RI, dikutip Senin, 27 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yudi menjelaskan dari sisi hulu/produksi tanaman tembakau, diperlukan waktu 30 tahun untuk memberikan kepastian agar para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Pertanian dapat menemukan varietas rendah nikotin yang tetap tangguh di lahan tropis dan ramah biaya bagi petani tradisional.  

“Tanpa waktu transisi sepanjang ini, industri lokal dipastikan kolaps lebih dulu sebelum benih ideal tersebut selesai diteliti. Menurunkan kadar nikotin pada tanaman tembakau melalui persilangan tradisional (non-GMO) membutuhkan proses seleksi genetik yang sangat lama. Setiap generasi tanaman membutuhkan waktu satu musim tanam penuh," jelas Yudi.

"Untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa merusak daya tahan tanaman terhadap hama lokal, dibutuhkan puluhan generasi persilangan. Selain itu, kadar nikotin tembakau lokal Indonesia (seperti Kemloko di Temanggung atau Mole di Jawa Barat) berkisar antara 3 persen hingga 8 persen karena faktor tanah vulkanik dan paparan sinar matahari tropis,” sambungnya.

Yudi menekankan, mengubah kadar nikotin ini secara drastis sama saja dengan mengubah identitas geografis komoditas tersebut, yang ujungnya membutuhkan waktu adaptasi alamiah lintas generasi petani. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, pertimbangan dari segi ekonomi, jika pembatasan ini akhirnya memaksa pengurangan lahan tembakau, negara membutuhkan waktu setidaknya satu generasi (sekitar 25–30 tahun) untuk mengedukasi dan mengalihkan jutaan petani ke komoditas substitusi yang memiliki nilai ekonomi setara. 

Yudi mengakui, untuk mendapatkan tembakau dengan kadar nikotin sangat rendah kurang dari 1 persen atau setara kurang dari 10 mg/g di daun kering untuk mencapai emisi asap rokok  kurang dari 1 mg, merupakan tantangan biologis terbesar bagi pertanian Indonesia. 

Halaman Selanjutnya

“Petani tembakau akan melihat apakah varietas tembakau yang kadar nikotin dan tar rendah ini memiliki pasar atau nilai ekonomi yang setara dengan varietas lokal yang selama ini dikembangkan. Karena petani akan melihat dari sisi keuntungannya untuk dapat membudidayakan varietas tembakau yang baru tersebut,” paparnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |