VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 akan mampu mencapai 5,5 persen.
“Untuk kuartal pertama kita optimistis lebih besar atau sama dengan 5,5 persen. Kemudian kalau di akhir tahun lebih besar sama dengan 5,4 persen sesuai dengan perkiraan APBN," kata Airlangga di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
Photo :
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Namun, proyeksi itu menurutnya masih sangat bergantung pada dinamika global yang saat ini masih diliputi ketidakpastian.
Pemerintah dipastikan juga akan terus menyesuaikan kebijakan ekonomi dengan perkembangan global, termasuk dampak konflik Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga energi dan rantai pasok.
Meski demikian, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan tetap mempertahankan baseline pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4 persen, sebagaimana dipatok dalam APBN.
Dia merinci, asumsi itu juga mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia, dimana sampai saat ini rata-rata harga minyak yang dibeli Indonesia berada di kisaran US$76 per barel.
"Setiap US$1 kenaikan BBM kan kira-kira dampaknya terhadap APBN sekitar Rp 6 triliun lebih sedikit," kata Airlangga.
"Itu nett ya, antara gaining export komoditas yang harga tinggi dikurangi dengan jumlah subsidi itu kira-kira Rp 6 triliun. Jadi kalau angka-angka seperti itu masih bisa di absorb oleh APBN," ujarnya.
Sebelumnya, usai Rapat Kerja Pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 8 April 2026, Airlangga juga menyampaikan bahwa optimisme pertumbuhan ekonomi didukung oleh kuatnya fundamental domestik
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hal itu utamanya pada konsumsi rumah tangga, yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga kuartal I-2026 juga menunjukkan tren positif.
Penerimaan pajak hingga Maret tercatat meningkat 14,3 persen menjadi sekitar Rp 462,7 triliun, sementara sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Selain itu, ketahanan pangan nasional dinilai tetap terjaga, dengan produksi beras pada 2025 mencapai 34,7 juta ton dan stok beras Perum Bulog saat ini sekitar 4,6 juta ton.
Rupiah Menguat Meski Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2026
Hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.083 per dolar AS. Posisi itu menguat 7 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.090 per dolar AS.
VIVA.co.id
10 April 2026

2 weeks ago
14



























