loading...
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI melaporkan kinerja sepanjang semester I 2026. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun hingga akhir Juni 2026. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi, struktur pendanaan yang kuat, serta kualitas aset yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan persaingan likuiditas perbankan.
"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," kata Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Baca Juga: Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
Pertumbuhan kredit BNI hingga semester I 2026 ditopang portofolio yang terdiversifikasi pada berbagai sektor dan segmen, mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur. Strategi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan, tercermin dari pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar 11,2% secara tahunan dengan rasio CASA mencapai 65,4%.
Penguatan dana murah turut menekan biaya dana pihak ketiga atau cost of fund menjadi 2,56% pada semester I 2026, dari 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2% menjadi Rp22,3 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.
"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295770/original/019030800_1783944385-20260713_094007.jpg)
