Jakarta, VIVA – Ketersediaan bahan bakar jet global mulai terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang menyebabkan jalur distribusi energi Selat Hormuz nyaris terhenti. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di industri penerbangan dunia, terutama menjelang musim perjalanan musim panas.
Laporan menunjukkan bahwa pasokan bahan bakar jet di Eropa dan Asia mulai tertinggal dari permintaan, dan jika aliran minyak tidak segera pulih, gangguan penerbangan diperkirakan akan meluas dalam hitungan minggu.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol, menyebut situasi ini sebagai ancaman besar bagi ekonomi global. “Eropa memiliki mungkin hanya sekitar enam minggu sisa pasokan bahan bakar jet,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari AP News, Jumat, 17 April 2026.
Bahan bakar jet merupakan komponen biaya terbesar bagi maskapai penerbangan, yakninmenyumbang sekitar 30 persen dari total biaya operasional. Kenaikan harga minyak sejak konflik dimulai telah menggandakan biaya bahan bakar dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut analis harga energi penerbangan di Argus Media, Amaar Khan, kondisi di jalur perdagangan utama semakin memburuk. “Setiap hari Selat Hormuz tetap ditutup, Eropa semakin dekat dengan kekurangan pasokan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa sekitar 40 persen impor bahan bakar jet Eropa sebelumnya melewati jalur tersebut, namun kini hampir tidak ada aliran yang melewati rute itu sejak konflik pecah.
Tekanan pada pasokan bahan bakar mulai dirasakan maskapai penerbangan global. Beberapa maskapai sudah menaikkan biaya tambahan seperti biaya bagasi dan surcharge bahan bakar untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional.
Selain itu, industri penerbangan juga mulai mengantisipasi kemungkinan pembatalan penerbangan jika kondisi memburuk, terutama saat permintaan perjalanan meningkat di musim liburan.
Organisasi penerbangan internasional sebelumnya telah memperingatkan bahwa harga tiket bisa terus naik jika krisis bahan bakar berlanjut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Gangguan pasokan bahan bakar jet ini menambah daftar panjang dampak konflik energi global yang sebelumnya sudah memukul sektor minyak dan gas. Ketergantungan pada jalur distribusi seperti Selat Hormuz membuat rantai pasok energi dunia sangat rentan terhadap ketegangan geopolitik.
Jika situasi tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan, industri penerbangan diperkirakan akan menghadapi tekanan ganda, yakni biaya operasional yang meningkat dan potensi penurunan permintaan akibat harga tiket yang lebih mahal.
Jelang Putaran Kedua Negosiasi, AS Ancam Hantam Pembangkit Listrik Iran
Amerika Serikat kembali melontarkan ancaman. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan bahwa militer Amerika Serikat siap menyerang pembangkit listrik Iran
VIVA.co.id
17 April 2026

1 week ago
8



























