Jakarta, VIVA – Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah mulai dirasakan dampaknya oleh berbagai negara, termasuk negara maju dengan ketahanan ekonomi kuat. Lonjakan harga energi dan gangguan pasokan mendorong pemerintah untuk mengambil langkah cepat guna menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat.
Tidak hanya negara berkembang, tekanan ini juga dirasakan oleh negara dengan tingkat kemakmuran tinggi. Ketergantungan terhadap impor energi membuat banyak negara tetap rentan terhadap gejolak global, terutama ketika konflik memengaruhi jalur distribusi dan produksi energi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Singapura, yang tercatat sebagai negara terkaya kedua di dunia pada 2025 berdasarkan produk domestik bruto per kapita, mulai memperkuat kebijakan perlindungan bagi warga dan sektor usaha di tengah tekanan krisis energi.
Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Singapura, Lawrence Wong, menyampaikan bahwa pemerintah akan mempercepat implementasi sejumlah bantuan yang sebelumnya telah diumumkan dalam anggaran fiskal 2026.
Ia mengatakan, pemerintah akan memberikan dukungan yang lebih terarah kepada sektor-sektor yang paling terdampak, serta memberikan potongan atau subsidi untuk membantu menekan lonjakan tagihan listrik masyarakat.
"Rincian kebijakan tersebut akan diumumkan dalam sidang parlemen yang dijadwalkan berlangsung pekan berikutnya," demikian dikutip dari VN Express, Selasa, 7 April 2026.
Menurut Wong, konflik global saat ini memasuki fase yang semakin tidak stabil dan penuh ketidakpastian, dengan dampak luas terhadap keamanan regional serta arus energi dunia. Ia juga mengingatkan bahwa dampak krisis dapat berlangsung lebih lama, bahkan jika gencatan senjata tercapai dalam waktu dekat.
Hal ini disebabkan oleh kerusakan pada infrastruktur produksi dan distribusi energi yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali pulih sepenuhnya.
Meski demikian, Wong menilai Singapura masih mampu mengelola gangguan jangka pendek. Sejumlah kilang minyak dan perusahaan kimia telah mengurangi produksi, sekaligus mencari sumber minyak mentah dan bahan baku dari luar kawasan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Langkah diversifikasi ini juga dilakukan oleh importir gas alam cair atau LNG yang mulai mengamankan pasokan alternatif dari berbagai produsen global.
Singapura juga berencana memperkuat kerja sama dengan Australia yang saat ini menyumbang lebih dari sepertiga pasokan LNG negara tersebut. Selain itu, kerja sama dengan New Zealand juga ditingkatkan untuk memastikan kelancaran pasokan barang kebutuhan pokok dan pangan.
Halaman Selanjutnya
Berdasarkan data publikasi The Economist, Singapura mencatat produk domestik bruto per kapita sebesar US$90.700 atau sekitar Rp1,54 miliar dengan asumsi kurs Rp17.000. Angka ini menempatkan Singapura sebagai negara terkaya kedua di dunia, di bawah Switzerland dengan US$100.000 atau sekitar Rp1,7 miliar, dan di atas Norway dengan US$86.800 atau sekitar Rp1,47 miliar.

2 weeks ago
8



























